Mataram (NTBSatu) – Saat sebagian orang memilih bepergian jauh untuk mengisi libur panjang Lebaran, tak sedikit pula yang memutuskan untuk menikmati suasana lebih dekat, lebih sederhana, namun tetap berkesan. Salah satunya adalah di Pantai Senggigi.
Pagi itu menyambut pengunjung dengan debur ombak tenang dan udara laut yang masih segar.
Terletak hanya sekitar 25-30 menit perjalanan dari pusat kota Mataram, Senggigi tak hanya menawarkan keindahan alam yang sudah tersohor, tapi juga kenyamanan yang bisa wisatawan nikmati tanpa perlu menguras kantong.
Di sinilah, banyak keluarga memilih untuk sekadar rehat sejenak dari hiruk pikuk mudik dan Lebaran.
Waktu baru menunjukkan pukul 06.30 pagi. Masih sepi. Hanya beberapa pengunjung terlihat membentangkan tikar, melepas alas kaki, dan menyapa pagi dengan senyum.
Langit belum terlalu panas, angin belum kencang, dan suara anak-anak mulai terdengar pelan. Kemudian, tawa mereka menyatu dengan debur ombak.
Modal Hanya Rp100.000
Di antara para pengunjung pagi itu, tampak Harsinah, seorang ibu rumah tangga dari Ampenan.
Bersama suami dan tiga anaknya, ia duduk santai di atas tikar sambil mengamati anak-anaknya bermain air.
“Cuma bawa seratus ribu, tapi rasanya sudah seperti liburan mahal,” katanya sambil terkekeh.
Totalnya, ia hanya menghabiskan sekitar Rp75.000 saja.
Tiket masuk sekaligus parkir dibandrol Rp5.000 per orang.
Tikar sewaan Rp10.000, dua piring sate bulayak hangat seharga Rp25.000, dan sebutir kelapa muda seharga Rp15.000 melengkapi santapan mereka pagi itu.
Selebihnya, ia membawa bekal dari rumah. Nasi, lauk, dan air minum dibungkus rapi dari dapur sendiri—karena, katanya, sekarang saatnya mode hemat.
“Masih sisa jajan dan makanan Lebaran kemarin. Karena anak-anak masuk sekolah masih lama, supaya mereka tidak bosan kita ajak ke sini,” ungkapnya.
Tunjangan Hari Raya (THR) yang diterima suaminya, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di salah satu dinas di Kota Mataram, telah habis untuk keperluan Lebaran. Sebagai ibu rumah tangga, Hasinah harus cermat dalam mengelola keuangan keluarga pasca-Lebaran.
Alih-alih memilih liburan ke luar kota atau menginap di tempat wisata mahal, Hasinah memilih alternatif wisata yang lebih hemat: berlibur ke alam terbuka. Baginya, Pantai Senggigi adalah pilihan tepat.
“Pantai Senggigi bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah ruang berkumpul. Tempat keluarga menyatukan waktu, mengikat tawa, dan menciptakan kenangan tanpa perlu akomodasi mahal, tiket pesawat, atau restoran mewah. Yang penting kebersamaan,” tukasnya.
Daya Tarik Pantai Senggigi
Bukan hanya karena keindahan alamnya, laut yang jernih, pasir yang bersih, dan panorama Gunung Agung dari kejauhan, tapi juga karena ia menyimpan ruang untuk keintiman: tempat duduk bersama, bercerita, bercanda, dan mengingat momen-momen kecil yang sering terlupa dalam rutinitas harian.
Sementara itu, bagi yang ingin lebih aktif, tersedia kano dan ban untuk disewa.
Ombaknya yang tenang di beberapa sisi menjadikan pantai ini cocok untuk anak-anak berenang.
Menjelang sore, pantai ini berubah warna. Langit mulai jingga, dan para pengunjung berkumpul di bibir pantai, menanti momen sakral: matahari terbenam di ufuk barat, tenggelam perlahan di balik siluet Gunung Agung. Suasana hening, selanjutnya kamera-kamera siap, dan semua mata tertuju ke langit. (*)