HEADLINE NEWSLombok Utara

Kades Ungkap Warga Bunuh Diri karena Ditekan Polisi Pernah Curhat ke Meta AI

Mataram (NTBSatu) – Kepala Desa (Kades) Sesait, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, Susianto menceritakan jika warganya yang diduga bunuh diri, Rizkil Watoni sempat curhat ke Meta AI WhatsApp.

“Jadi, almarhum pernah chat Meta AI di WhatsApp,” kata Susianto kepada NTBSatu di kediaman korban pada Selasa, 18 Maret 2025.

Dalam riwayat chat handphone milik korban, terlihat Rizkil membahas beberapa hal kepada program kecerdasan buatan tersebut. Di antaranya, penetapan statusnya sebagai tersangka walaupun sudah perdamaian. Kemudian dugaan polisi memaksanya mengaku mencuri handphone di Alfamart Kayangan.

Selain itu, almarhum juga menanyakan ke Meta AI apakah bunuh diri merupakan solusi untuk menyelesaikan masalah.

Berikut tangkapan layar pesan antara Rizkil Watoni dan Meta AI:

IKLAN
Chat Meta AI Korban Bunuh Diri Lombok Utara
Tangkapan layar pesan antara Rizkil Watoni dan Meta AI di WhatsApp miliknya. Foto: Zulhaq Armansyah

Sebelumnya, ayah Rizkil Watoni, Nasruddin menemukan anaknya meninggal dunia dalam keadaan tergantung di rumahnya Dusun Batu Jompang, Desa Sesait pada Senin, 17 Maret 2025 petang. Dugaannya ia merasa tertekan dengan desakan polisi agar mengaku menjadi pencuri handphone di Alfamart.

Menjelang akhir hidupnya, kata Kades, korban selalu merasa murung. Padahal ia terkenal sebagai seseorang yang ceria. Kerap berbincang-bincang di masjid Nurul Jihad Sultan Agung.

“Berubah. Lebih diam,” ujarnya.

Pemdes Sayangkan Sikap Kepolisian

Lebih jauh, Susianto menyayangkan sikap kepolisian karena tak berkoodinasi dengan pihak Pemdes terkait persoalan warganya. Menyusul Sesait merupakan bagian dari Desa Adat Dasan Beleq yang memiliki lembaga adat.

“Minimal ada permakluman ke kami bahwa ada warga yang bermasalah. Sama sekali tidak ada,” sesalnya.

IKLAN

“Kalau ada lembaga kami, manfaatkan (berkoodinasi) dengan lembaga itu. Dan ada damai antara korban dan pelaku,” sambungnya.

Kematian PPPK di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lombok Utara tersebut bukan tanpa sebab. Keluarga menduga kuat bahwa ia merasa tertekan karena kepolisian mendesaknya agar mengaku menjadi pencuri handphone.

Tidak lama setelah keluarga menemukannya meninggal dunia, terjadi lah aksi penyerangan terhadap Mapolsek Kayangan pada Senin, 17 Maret 2025 malam.

Pihak Polsek hingga berita ini terbit belum juga memberikan klarifikasi. Upaya konfirmasi melalui telepon, mengirim pesan via WhatsApp hingga mendatangi kantornya, tidak juga membuahkan hasil.

Tanggapan singkat datang dari Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Mohammad Kholid. Kepolisian saat ini melakukan pendalaman.

“Sementara masih didalami penyebab kejadian,” ucapnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button