Pemerintahan

Direktur Julmansyah Sebut NTB Perlu Kembali ke Pola Pertanian Agroforestri

Jakarta (NTBSatu) – Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat Kementerian Kehutanan, Julmansyah, S.Hut., M.A.P., mengatakan, Provinsi NTB merupakan wilayah kepulauan kecil yang didominasi topografi landai dan terjal.

Hal tersebut terlihat dari sebagaian besar wilayah NTB yang terdiri dari permukaan berbukit dan bergunung.

“Di Lombok lebih banyak daerah yang datar di bagian selatan, sementara di utara terdapat Gunung Rinjani. Sedangkan Pulau Sumbawa,, kondisi serupa terjadi. Dengan daerah datar lebih banyak di bagian utara, namun penggunungan mendominasi wilayah selatan,” sebut Julmansyah kepada NTBSatu di kantornya, Rabu, 26 Februari 2025.

Ia juga menjelaskan, karakteristik biofisik NTB sangat khas sebagai daerah kepulauan kecil. Berbeda dengan pulau besar, seperti Sumatra dan Kalimantan yang memiliki bentangan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang luas dan panjang.

Sementara di NTB, sungai-sungainya cenderung pendek, lanjut Julmansyah. Sehingga aliran air lebih cepat menuju laut. Selain itu, ekosistem di NTB yang didominasi oleh padang savana memiliki tingkat kerentanan yang tinggi.

IKLAN

“Gangguan kecil terhadap ekosistem dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” tutur Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB ini.

Oleh sebab itu, sambungnya, arah pembangunan di NTB seharusnya berfokus pada upaya menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan menghindari adopsi pola pembangunan ala benua.

Salah satu contoh yang kurang sesuai adalah penerapan pertanian monokultur dalam skala besar, seperti penanaman jagung secara masif.

“Sistem monokultur merupakan karakteristik pertanian di daratan luas dan datar. Atau ciri khas pertanian ala benua yang memungkinkan mekanisasi pertanian dalam skala besar,” ujar Julmansyah

Pendekatan Agroforestri Lebih Tepat di NTB

Ia menegaskan, di NTB seharusnya pendekatan yang lebih tepat adalah sistem agroforestri. Seperti yang telah diterapkan di kawasan Greenbelt Rinjani, dari Swela hingga Batukliang Utara, Narmada, Lingsar, Gunungsari, Pemenang, dan Bayan.

IKLAN

“Wilayah-wilayah tersebut mengandalkan keanekaragaman komoditas pertanian yang saling berkesinambungan dalam musim panen. Seperti kopi, kemiri, durian, dan rambutan,” ucap Mantan Pj. Bupati Kabupaten Sumbawa Barat ini.

“Berbeda dengan monokultur yang hanya bergantung pada satu jenis tanaman dalam satu periode tertentu. Sistem agroforestry dapat menjaga keseimbangan ekosistem dan ketahanan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Selain itu, pertanian jagung di NTB tidak kompetitif daripada negara-negara seperti Brasil, Vietnam, atau Tiongkok, yang memiliki lahan luas dan datar.

Ia mengungkapkan, negara-negara tersebut dapat menerapkan mekanisasi pertanian secara penuh. Mulai dari penanaman hingga pemanenan menggunakan mesin, yang menekan biaya produksi.

Sementara di NTB, proses pertanian masih bergantung pada tenaga manusia, yang meningkatkan biaya produksi secara signifikan.

“Dampak negatif dari pertanian monokultur di NTB juga telah terlihat dalam bentuk bencana banjir yang semakin sering terjadi. Dalam periode Desember 2024 hingga Januari 2025, tercatat ada 15 titik banjir di NTB,” terangnya.

Bagi Julmansyah, hal tersebut menunjukkan bahwa degradasi lingkungan akibat perubahan tata guna lahan telah memperburuk daya dukung ekosistem terhadap curah hujan. Bahkan, gerimis sekalipun kini dapat memicu banjir di beberapa wilayah.

Dengan tingginya tingkat kerentanan pulau-pulau kecil terhadap perubahan iklim, ia menekankan, NTB harus mulai beradaptasi dengan pendekatan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

“Kita harusnya belajar dari situ,” tandas Julmansyah. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button