HIBURANSejarah dan Budaya

Paer Habitat Gelar “La Cara”, Ekshibisi Seni Visual Solo Mahasiswi asal Spanyol

Mataram (NTBSatu) – Laboratorium seni dan kreatif dari Paerstud, yakni Paer Habitat menggelar Ekshibisi Solo Seni Visual oleh Alba Carinena yang bertajuk La Cara di Segara Space, Kota Mataram pada 4 Juni 2024.

Alba Carinena merupakan mahasiswi asal University Zaragoza, Spanyol yang magang dengan pendekatan residensi di Paerstud selama lebih dari tiga bulan.

Dalam sebuah kesempatan, Alba mengatakan, ketika sampai di Lombok, ia mendapatkan pengalaman baru. Ia menemukan begitu banyak budaya, adat istiadat, dan agama yang dapat dilihat dan diceritakan dari sebuah pulau kecil bernama Lombok. Menurut Alba, seluruh pengalaman baru yang ditemukannya bersifat sangat penting. Sehingga, ia ingin menggambarkan segala yang ditemuinya.

“Kemudian, pertanyaan soal ‘apa itu Ampenan?’ menjadi titik awal bagi saya untuk memulai petualangan ini,” ucap Alba yang termaktub dalam katalog elektronik La Cara.

IKLAN

Alba memahami Ampenan sebagai pintu gerbang sejarah secara umum untuk Indonesia, lebih khusus untuk Lombok. Ia menilai bahwa letak geografis dari Ampenan memberikan motivasi kepada berbagai macam suku, budaya, dan agama untuk masuk.

Alba Carinena saat memberikan sambutan di ekshibisi solonya Foto: Istimewa/Dokumen Pribadi

Dari penilaian itu, perjalanan Alba berlanjut. Ia mempelajari Ampenan lebih dalam, kemudian menemukan berbagai keindahan bangunan kuno peninggalan kolonial Belanda, juga toleransi antar umat beragama yang ada di dalamnya.

“Jadi, saya membayangkan Ampenan adalah kawasan pelabuhan, tentu berdasarkan referensi yang ada di Spanyol, kemudian bercampur dengan berbagai elemen keindahan. Namun, saat menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Ampenan, segalanya berbeda, saya menemukan kemiskinan, pengabaian, situasi kumuh, dan penuh sampah,” jelas Alba.

Setelah mendapati Ampenan yang berbeda dengan referensinya, Alba merasa ingin memotret kota itu dan memperlihatkannya. Maka, dengan La Cara, Alba mengharapkan orang-orang dapat melihat apa yang dilihat olehnya dan merasakan pengalaman yang dirasakan olehnya.

Selain itu, Alba menginginkan orang-orang mengamati lebih dalam soal Ampenan kemudian menentukan sendiri apa yang mesti dilakukan terhadap kota tua yang monokrom, tapi bangunannya dicat warna-warni itu.

“Mudah-mudahan, orang-orang bisa melakukan sesuatu yang sebagaimana mestinya dan berlaku adil terhadap Ampenan,” tandas Alba.

Sementara itu, Kurator Ekshibisi Solo Seni Visual La Cara oleh Alba Carinena, Ronieste mengatakan, Alba datang ke Paerstud dengan tujuan memenuhi program beasiswa yang didapat dari kampusnya. Baginya, bekerja sama dengan Alba adalah pengalaman pertama dalam menangani orang dari luar negeri.

“Kami memilih pendekatan residensi untuk Alba. Alasannya, Alba adalah orang dari luar negeri. Kemudian, Alba juga memiliki ketertarikan sendiri terhadap seni visual,” ungkap Ronieste, dikonfirmasi Sabtu, 8 Juni 2024.

Berdasarkan pengalaman menangani Alba selama tiga bulan, Ronieste menyadari bahwa asesmen formal sebelum memulai magang sangatlah penting. Dari hal itu, Ronieste dan kru Paer Habitat akan mengetahui apa yang sesungguhnya ingin diketahui oleh si peserta magang.

Dalam menangani Alba, Ronieste hanya mendapatkan asesmen berupa surat rekomendasi yang bersifat terlalu formal dan sangat permukaan. Oleh karena itu, ke depannya, ia merasa bahwa sangat penting untuk melampirkan secara formal mengenai apa saja yang ingin dilakukan oleh si peserta magang.

“Tujuannya, agar mengetahui segala hal-ihwal mengenai si peserta magang,” ucap Ronieste.

Provinsi NTB, khususnya pulau Lombok, bukanlah daerah yang akrab dengan seni. Salah satu buktinya ialah tidak adanya kampus seni di pulau ini. Maka, adanya seorang mahasiswi yang berasal dari Spanyol memilih Lombok sebagai lokasi untuk belajar, tentu menjadi perhatian.

Ronieste saat memberikan sambutan Foto: Istimewa/Dokumen Pribadi

Menanggapi itu, Ronieste menerangkan, ada perubahan perilaku dari aktivitas pariwisata terutama bagi orang-orang yang berasal dari Eropa dan Amerika. Hal itu bisa dilihat dari bergesernya keinginan masyarakat asing dalam mengeksplorasi suatu wilayah.

“Dahulu, kami melihat bahwa orang-orang Eropa dan Amerika memilih Lombok dengan tujuan mengeksplorasi keindahan alam. Namun, dengan adanya Alba yang magang di Paerstud, saya kira ada sedikit pergeseran kebiasaan,” kata Ronieste.

Pergeseran kebiasaan yang terjadi pada orang-orang Eropa dan Amerika adalah peluang untuk mengenalkan Indonesia, khususnya dalam sektor kebudayaan dan sosial, dengan pendekatan seni. Terlebih, apabila masyarakat asing mendapatkan kesempatan melakukan residensi yang bertujuan untuk membaca kebudayaan dan sosial Indonesia dengan capaian akhir berupa presentasi karya, Ronieste merasa itu sangat menarik.

Ke depannya, Paer Habitat akan membuka sebuah kelas. Kelas itu bertujuan untuk mengenalkan proses berkesenian, khususnya dalam konteks seni visual. Dari kelas itu, Ronieste mengharapkan berbagai pengkarya akan bermunculan.

Untuk melengkapkan proses pembelajaran dari setiap pengkarya, Paer Habitat tentu harus membuat sebuah pameran. Membuat sebuah pameran sangatlah penting untuk menciptakan apresian seni visual. Apalagi, menurut Ronieste, Lombok tidak memiliki infrastruktur dan sistem seni visual.

“Oleh karena itu, kami mesti membangun infrastruktur dan sistem seni visual terlebih dahulu, setidaknya dimulai dari sesuatu yang kecil-kecil. Dengan membangun infrastruktur dan sistem seni visual yang memadai, ekosistem akan bermunculan, medan seni visual akan tercipta, dan pasar seni visual akan terbentuk,” pungkas Ronieste. (GSR)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button