Mataram (NTBSatu) – Peneliti Media Ignatius Haryanto menilai, kemenangan Prabowo Subianto dalam pilpres versi hitung cepat beberapa lembaga survei dikhawatirkan mengancam kebebasan pers.
Ia mendasarkan hal itu pada rekam jejak Prabowo di masa lalu yang berulang kali menunjukkan watak antikritik saat berurusan dengan pers.
Misalnya, kerap menolak wawancara dengan media tertentu, terutama yang pernah mengkritiknya, serta pernah menandai sejumlah media yang kritis padanya.
“Ruang gerak pers bisa jadi akan lebih terbatas dan pembredelan media bisa saja terjadi kembali seperti di era Orde Baru,” jelasnya pada Kamis, 15 Februari 2024 dikutip dari BBC News Indonesia.
“Bredel ada kemungkinan itu akan dilakukan, karena saya kira juga kekuasaan hegemonik yang sudah ada oleh pemerintahan sekarang ini kan tinggal dilanjutkan dengan karakter yang lebih keras,” sambungnya.
Berita Terkini:
- Bantah Pernyataan Pemkot Bima, Rafidin Tegaskan 28 Tambak Udang Tak Miliki IPAL
- 5 Ekor Sapi Mati dalam Antrean Truk di Pelabuhan Gili Mas, Sebagian Mulai Sakit
- Merasa Tak Disayang, Anak SMP di Lombok Timur Coba Akhiri Hidupnya
- Sosok Rudolf Schenker dan Klaus Meine, Personel Kunci Scorpions dan Kenangan dengan Titiek Puspa dan Lagu “When You Came Into My Life”
Prabowo disebut datang dari era Orde Baru yang menyuburkan pembungkaman pers dan punya relasi dengan keluarga Cendana.
Sebagai catatan, Prabowo adalah mantan suami Siti Hediati Hariyadi alias Titiek, putri kedua mantan presiden otoriter Soeharto.
“Saya kira rezim-rezim otoriter itu kan selalu melakukan cara-cara untuk membungkam. Jadi saya kira memang kita bisa agak khawatir dengan situasi ini,” kata Ignatius.
Sasmito Madrim, ketua umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), juga mengatakan hal yang sama.