IKLAN
NTB

Kulit Kaki Terkelupas, Peralatan Hilang, Dibayangi Perasaan Ingin Menyerah

Keberhasilan evakuasi jenazah Warga Negara Asing (WNA) kelahiran Israel, Boaz Bar Anam, tak lepas dari kerja keras tim evakuasi yang bertaruh nyawa. Bagaimana kisahnya?. Berikut wawancara khusus ntbsatu.com dengan Ketua Tim Evakuasi, I Komang Subudiyasa

Tim SAR gabungan dari unsur SAR Mataram, TNI-Polri, TNGR, Unit SAR Lotim, EMHC, KUN, serta dibantu warga setempat, berhasil mengangkat jenazah WNA yang berasal dari Portugal itu, dari jurang terjal dengan kedalaman 180 meter, untuk dinaikan kembali ke puncak Rinjani dengan ketinggian 3.726 Mdpl.

IKLAN

Hari Pertama, Modal Mie Instan

Ketua Tim pada saat proses evakuasi, Komang Subudiyasa kepada ntbsatu.com menceritakan, Unit SAR mendapat laporan pada hari Jumat 19 Agustus 2022, kemudian dirinya bersama tim gabungan dari beberapa unsur lainnya bergerak menuju TKP.

“Kami sampai di Pelawangan sekitar pukul 23.00 wita, untuk kami briefing dan persiapan menuju puncak Rinjani untuk proses evakuasi hari pertama,” kata Komang dihubungi, Minggu 23 Agustus 2022.

Tim kemudian sampai ke puncak Rinjani pada Sabtu 20 Agustus 2022, pukul 06.00 wita. Untuk dilanjutkan asesment, menentukan jalur mana saja yang akan dilewati untuk turun dalam proses evakuasi jenazah Boaz.

“Beberapa kali kami memutar untuk mencari jalur yang pas, namun ketika kami lempar tali ke jurang, kerikil langsung berjatuhan. Jadi hari pertama itu kami menginap,” imbuhnya.

Proses evakuasi hari pertama, kata Komang, menjadi dramatis dan menegangkan, lantaran tim yang belum dapat turun, namun diganggu cuaca ekstrem. Angin kencang membuat seluruh tim menggigil kedinginan. “Kami putuskan turun pada pukul 20.00 Wita hari itu,” kisahnya.

Hari pertama itu sempat terkendala logistik, karena menanjak bermodalkan mie instan dan air putih saja. “Hari pertama hanya ada mie dan air, baru hari berikutnya kami dibawakan nasi,” sebutnya.

Hari Kedua, Sejumlah Peralatan Hilang

Pada hari ketiga perjalanan proses evakuasi atau hari kedua di puncak Rinjani Minggu 21 Agustus 2022. Tim menuju puncak Rinjani dengan formasi yang berbeda. Sialnya, hari itu selain masih mendapat serangan angin yang kencang, beberapa peralatan yang disimpan pada hari sebelumnya hilang.

“Sampai atas puncak, angin membuat pergerakan kami tidak maksimal. Peralatan kami juga beberapa hilang, kami sempat menduga itu dicuri,” terangnya.

Benar benar keadaan yang buruk bagi kelancaran evakuasi. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk turun dan tidak melanjutkan proses evakuasi.

Hari Ketiga, Berhasil Dibawa ke Puncak

Senin 22 Agustus 2022, Komang bersama tim melanjutkan proses evakuasi. Dengan alat dan tim yang ada, sekitar pukul 14.20 wita jenazah Boaz akhirnya berhasil di naikan ke puncak Rinjani.

“Ketika kami di atas, posisi tali yang kami pasang sudah aman, kemudian kami bersama tim mulai melakukan evakuasi. Ada yang turun juga ada yang di atas menarik tali,” tuturnya.

Jenazah Boaz kemudian berhasil diangkat ke puncak Rinjani untuk kemudian dibawa menuju Pelawangan untuk dipacking ulang.

Pada saat dibawa ke puncak Rinjani, kondisi dari jenazah korban sudah mulai rusak terutama di kepala yang pecah. Untungnya, jenazah tidak mengeluarkan aroma menyengat.

Jenazah Boaz dengan bobot 70 kg itu kemudian digotong menuju Pelawangan, sebelum akhirnya dibawa menuju pos evakuasi di Sembalun. “Proses evakuasi dari puncak ke Pelawangan tidak menemukan kendala, namun kami secara bergiliran dikarenakan kondisi tenaga yang cukup terkuras pada saat sebelumnya,” cetusnya.

Lewati Bebatuan dan Jalur Terjal

Sulitnya proses evakuasi jenazah korban yang jatuh pada kedalaman 180 meter dari puncak Rinjani itu, disebabkan banyaknya bebatuan lepas serta kontur tanah tebing yang terjal.

“Posisi korban itu di kedalaman 180 meter, kemudian kami lemparkan tali sepanjang 200 meter,” sebutnya.

Demi kemanan tim pada saat proses evakuasi, Komang sebelumnya mewanti-wanti kepada anggota agar tidak beraksi jika peralatan tidak aman. “Saya imbau tim tetap dengan peralatan aman, kalau mau lihat tebing harus berpegangan,” katanya.

Dibayangi Perasaan Ingin Menyerah

Proses evakuasi selama empat hari itu dikatakan Komang, cukup dramatis dan menegangkan. Dirinya mengaku berat badannya turun usai empat hari berturut-turut menaiki puncak Rinjani. Selain itu, kondisi kakinya terkelupas.

“Rata-rata kaki kami terkelupas karena empat hari naik turun di puncak Rinjani,” sebutnya.

Tantangan yang cukup membuat keder ketika bebatuan menimpa tim. Pada saat proses evakuasi dari titik korban menuju puncak. Ketika tim yang di atas menarik tali, tim yang berada di bawah harus berusaha untuk menghindari reruntuhan bebatuan dari tebing.

“Kalau terkena bebatuan, sudah jadi rutinitas dalam empat hari itu,” sebutnya.

“Beberapa dari tim sempat ingin menyerah, pasalnya yang kami lawan ini alam. Kami tidak lelah diproses evakuasi namun diperjalanan yang membuat kami terasa lelah lebih dahulu,” ucapnya.

Komang menyebutkan selama proses evakuasi itu, dirinya bersama sejumlah tim bahkan tidak pernah mandi.

Namun akhirnya, “Semuanya terbayar ketika kami berhasil membawa jenazah ke atas puncak untuk diturunkan ke posko Sembalun. Perasaan lelah dan dihantui menyerah itu berubah seketika menjadi terharu lantaran kerja sama semua tim,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, WNA kelahiran Israel itu dikabarkan menaiki puncak Rinjani pada Jumat 19 Agustus 2022, dan berada di puncak sekitar pukul 08.00 wita. Sebelum kejadian yang merenggut nayawanya tersebut, ia bersama dua rekannya melakukan swafoto.

Akan tetapi jarak dan posisi Boaz yang terlalu pinggir, kemudian terpeleset dan jatuh ke jurang sedalam 180 meter dari puncak Rinjani dengan ketinggian 3726 mdpl tersebut. (MIL)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button