Mataram

Dimeriahkan Pamela Paganini dan Kiki Sulistyo, Komunitas Akarpohon Sukses Gelar Perayaan Buku Puisi Iin Farliani

Mataram (NTB Satu) – Komunitas Akarpohon Mataram menggelar Perayaan Buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi karya Iin Farliani, di Toms Garden Coffee, pada Sabtu, 23 Juli 2022. Dalam perayaan buku tersebut, ikut hadir penyair Kiki Sulistyo sebagai pembahas buku, penyanyi Pamela Paganini sebagai pengalihwahana, dan penyair Abed Ilyas sebagai moderator.

Penulis buku Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi, Iin Farliani mengatakan, sangat tidak menyangka bahwa Kiki Sulistyo bakal membahas buku Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi dengan sangat dalam. Iin yang juga pegiat di Komunitas Akarpohon Mataram, memang terbiasa berdiskusi di program yang lain dengan Kiki Sulistyo.

“Pada perayaan buku kali ini, tilikan Kiki Sulistyo sangat membuat saya terpesona,” ungkap Iin, ditemui NTB Satu setelah perayaan buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi, di Toms Garden Coffee, Sabtu, 23 Juli 2022.

Setelah melahirkan buku Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi, Iin membandingkan dengan proses yang sekarang, Iin menilai bahwa puisi-puisi terbarunya terasa lebih berani mengeksplorasi bentuk dan komposisi.

“Sedangkan, pada puisi-puisi yang termaktub di Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi hanya sekadar menulis belaka,” jelas Iin.

Lebih lanjut, Iin mengakui bahwa pada puisi-puisi yang lalu, ia lebih banyak mengeksplorasi waktu. Sekarang, Iin menyatakan lebih mengeksplorasi ruang.

“Ke depannya, saya akan mempersiapkan buku kumpulan cerpen terbaru. Selain cerpen dengan kategori yang agak panjang, ada pula cerpen-cerpen yang telah dirilis di berbagai kanal online mau pun offline,” tandas Iin.

Sementara itu, penyair Kiki Sulistyo yang hadir sebagai pembahas mengatakan, motif utama puisi-puisi dalam buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Cium adalah pergumulan eksistensial untuk
mengatasi yang esensial, artinya untuk mengatasi yang klise. Motif tersebut, menurut Kiki, turut pula membangun
strategi pengucapan puisi-puisi dalam buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi, serta berhasil menghindar dari klise.

“Dengan strategi pemisahan subyek yang kerap timbul dalam puisi Iin, puisi mencegah yang esensial menyuarakan dirinya sendiri, yang sudah pasti akan menjebak puisi ke dalam total klise. Dengan kalimat lain, strategi itu membuat puisi tidak membicarakan yang klise,
tetapi membiarkan yang klise berbicara, atau sebaliknya membicarakan yang klise, tetapi tidak membiarkan yang klise bicara,” jelas Kiki.

Sedangkan, Pamela Paganini menceritakan bahwa dirinya pernah terlibat di program Komunitas Akarpohon sebagai pengalihwahana di beberapa tahun yang lalu. Dibandingkan dengan proses alihwahana yang dahulu, saat ini Pamela lebih banyak melakukan eksperimentasi.

“Sebab, saya ingin lebih banyak mencoba hal-hal baru. Oleh karena itu, pada pengalihwahanaan puisi yang sekarang, saya lebih banyak memakai teknik-teknik piano yang klasik,” ungkap Pamela, ditemui NTB Satu setelah perayaan buku kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi, di Toms Garden Coffee, Sabtu, 23 Juli 2022.

Pada proses alihwahana yang dahulu, Pamela hanya sekadar ingin membangun suasana belaka, seperti menahan suara di kunci-kuncian nada tertentu.

“Puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin juga memengaruhi proses bermusik saya dalam mengalihwahanakannya sebagai musik,” jelas Pamela.

Pada saat mengalihwahanakan puisi 2019 lalu, Pamela mengakui bahwa belum terbiasa membaca sastra. Kemudian, pada momentum setelah itu, Pamela cukup intens membaca sastra.

“Sewaktu mengalihwahanakan puisi Iin, saya jadi lebih berhati-hati, misalnya melihat diksi pada puisi secara lebih detail serta tumbuh kesadaran bahwa setiap diksi dalam puisi berpotensi menghasilkan melodi-melodi tertentu,” terang Pamela.

Ke depannya Pamela berencana akan menggarap single musik dan video musik terbaru. (GSR)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button