Mataram

Kasus PMK Melonjak, Jumlah Pemotongan Ternak di RPH Kota Mataram tak Terpengaruh

Mataram (NTB Satu) – Kasus Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) pada hewan ternak seperti sapi dan kerbau terus melambung di Provinsi NTB, sehingga pasar ternak se-Pulau Lombok ditutup sejak Kamis, 19 Mei 2022 hingga waktu yang tidak ditentukan. Terhitung pada hari itu juga, sebanyak 1.799 ekor sapi dan kerbau mengidap PMK. Jumlah itu tersebar di tiga kabupaten, yakni Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Barat.

Meski kasus itu menghambat distribusi hewan ternak, tetapi nyatanya tidak mempengaruhi jumlah pemotongan hewan di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Mataram. Salah satunya di RPH Karang Majeluk, jumlah rata-rata hewan ternak yang dipotong dalam sehari sebanyak 13 ekor, atau jumlah yang sama sebelum adanya PMK. Begitu pun dengan RPH di Gubug Mamben, Sekarbela, jumlah rata-rata pemotongan tetap sama yaitu 20 ekor per hari.

“Jumlah pemotongan di RPH Karang Majeluk masih stabil, begitu pun di Gubuk Mamben,” ujar Kepala UPTD RPH dan Pasar Hewan Kota Mataram, drh. Vidia Fitrianti, Rabu, 25 Mei 2022.

Diakui Vidia, hal itu disebabkan karena para jagal di beberapa RPH tersebut memiliki kandang ternak, sehingga hewan potong pada RPH tersebut seringkali diambil dari kandang mereka.

“Jadi jagal ini kadang ada kandangnya juga, jadi sapi dari sanalah yang dipotong. Kemudian juga ada yang diambil dari Lombok Barat saja,” imbuhnya.

Hewan potong juga berasal dari peternak yang khawatir ternaknya terjangkit PMK, sehingga tidak sedikit yang memilih untuk dipotong. “Penyakit ini bisa diobati tapi butuh waktu. Tetapi banyak peternak takut hewannya terjangkit lalu berakibat fatal, jadinya diminta potong dengan bersyarat (ante mortem),” kata Vidia kepada NTB Satu.

Di Kota Mataram, ada total 4 Rumah Potong, yaitu 2 RPH Ruminansial untuk sapi dan kerbau di Karang Majeluk dan Gubug Mamben, 1 RPB untuk babi di Karang Medain, dan 1 RPH Unggas di Pagesangan.

Beruntungnya, penyakit tersebut tidak menular ke manusia, sehingga daging dan susunya aman untuk dikonsumsi. Hanya saja bagian yang terinfeksi harus dipisahkan terlebih dahulu. (RZK)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button