Business

Kabar Baik, Keringanan Kredit Bank Dampak Pandemi Sampai Maret 2022

Mataram (NTB Satu) – Program restrukturisasi atau keringanan kredit dampak pandemi Covid-19 hingga kini masih bergulir. Program ini direncanakan sampai buan Maret 2022. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB, restrukturisasi hingga Oktober 2021 sebesar Rp 3,4 Triliun.

Angka restrukturisasi tersebut berasal dari perusahaan pembiayaan, BPR/BPRS serta perbankan umum. Restrukturisasi dari perusahaan pembiayaan sebesar Rp 1,677 Triliun, BPR/BPRS sebesar Rp 171 miliar, serta perbankan umum telah memberikan restrukturisasi kepada nasabahnya sebesar Rp 1,505 triliun.

IKLAN

Kepala OJK Provinsi NTB Rico Rinaldy mengatakan, adapun jumlah debitur yang mendapatkan restrukturisasi kredit di Provinsi NTB hingga Oktober 2021 khusus di perusahaan pembiayaan sebanyak 60.241 orang debitur dari total 69.539 orang debitur yang terdampak.

“Karena tidak semua debitur yang terdampak Covid-19 mengajukan restrukturisasi kredit,” kata Rico kepada wartawan pekan kemarin.

Sementara jumlah debitur BPR/BPRS yang mendapatkan restrukturisasi kredit sebanyak 4.240 orang debitur dari jumlah total 21.123 orang debitur yang terdampak. Adapun jumlah debitur bank umum yang memperoleh restrukturisasi sebanyak 33.133 dari total debitur yang terdampak sebanyak 46.818 orang.

Sementara restrukturisasi kredit Covid-19 secara nasional sesuai dengan rilis OJK Pusat tanggal 30 Desember 2021 masih melanjutkan tren penurunan di November 2021 dengan kredit restrukturasi Covid-19 tercatat sebesar Rp 693,62 triliun (Oktober 2021: Rp 714,01 triliun).

Jumlah debitur restrukturisasi Covid-19 juga menurun dari 4,4 juta debitur menjadi 4,2 juta debitur.

Secara umum OJK NTB mencatat total nilai kredit yang disalurkan oleh perbankan di NTB dari Januari – Oktober 2021 sebesar Rp 55 triliun. Pertumbuhan penyaluran kredit dari Januari – Oktober sebesar 5,57 persen. Pertumbuhan penyaluran kredit perbankan di NTB ini lebih besar daripada pertumbuhan penyaluran kredit secara nasional yang hanya tumbuh 3,26 persen.

“Yang menarik adalah pertumbuhan penyaluran kredit perbankan tidak mengalami penurunan di masa pandemi” ujar Rico.

Rico menyebut, dari total kredit perbankan tersebut, sebagian besar tersalur di Kota Mataram dengan jumlah Rp 35,49 triliun. Sisanya tersebar di sembilan kabupaten/kota lainnya di NTB. Adapun kredit berdasarkan penggunaannya, kredit untuk konsumsi paling mendominasi dengan jumlah Rp 24,1 triliun, selanjutnya untuk modal kerja sebesar Rp22,3 triliun dan kredit untuk tujuan investasi hanya Rp 8,5 triliun. (DIN)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button