Lombok TimurPemerintahan

Tingkatkan Produksi Padi, Pemkab Lombok Timur Dorong Petani Gunakan Teknologi PM-AAS

Lombok Timur (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur mendorong peningkatan produksi padi melalui penerapan teknologi Pertanian Modern – Advanced Agriculture System (PM-AAS). Teknologi ini menargetkan produktivitas hingga 10 ton per hektare melalui perubahan cara tanam, pengaturan jarak tanam, dan pengelolaan kebutuhan nutrisi tanaman.

Wakil Bupati Lombok Timur, Moh. Edwin Hadiwijaya mengatakan, penerapan teknologi tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas penyuluh pertanian lapangan (PPL). Terlebih, penyuluh yang sebelumnya berstatus ASN kabupaten kini beralih menjadi ASN pusat di bawah Kementerian sejak 1 Januari.

“Karena perpindahan itu tentu ada masa transisi. Nah, masa transisi inilah mereka diberikan peningkatan kapasitas melalui pelatihan, bimbingan, dan sebagainya,” ujar Edwin, Kamis, 29 Oktober 2026.

Menurutnya, penerapan PM-AAS menjadi salah satu upaya untuk mengubah pola pertanian konvensional menuju sistem yang lebih modern.

“Target 10 ton per hektare itu sangat memungkinkan kita capai dengan penerapan teknologi yang tepat,” kata Edwin.

Sementara itu, Katimker Kinerja Penyuluh Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) NTB, Ibrahim, menjelaskan PM-AAS mengandalkan penanaman langsung menggunakan alat sederhana bernama drum seeder.

Metode ini memungkinkan petani menanam benih tanpa melalui proses penyemaian dan pemindahan bibit.

“Ini transformasi teknologi sederhana dengan tujuan akhirnya peningkatan produksi. Peningkatan produksi bisa kita capai dengan menanam lebih banyak rumpun padi,” jelas Ibrahim.

Melalui metode tersebut, petani menargetkan penanaman sekitar 800 ribu hingga satu juta rumpun padi per hektare. Kebutuhan benih meningkat menjadi sekitar 70 kilogram per hektare untuk mendukung kepadatan tanaman.

Pangkas Biaya Tanam

Ibrahim menyebut, penggunaan drum seeder dapat memangkas waktu dan kebutuhan tenaga kerja. Petani hanya membutuhkan satu hingga dua orang untuk menanam satu hektare lahan dalam waktu sekitar dua hingga tiga jam.

“Kalau menanam menggunakan pindah tanam itu bisa 25 orang mengerjakan. Kalau PM-AAS, satu sampai dua orang selesai untuk satu hektare,” ungkapnya.

Penerapan teknologi ini juga diikuti penambahan alokasi pupuk. Jatah pupuk urea meningkat dari 225 kilogram menjadi 300 kilogram per hektare.

Sementara itu, alokasi pupuk NPK naik dari 250 kilogram menjadi 400 kilogram per hektare bagi petani yang menerapkan PM-AAS.

Menurut Ibrahim, hasil penerapan teknologi di Lombok Tengah menunjukkan potensi produksi hingga 12 ton per hektare. Namun, capaian tersebut bergantung pada kedisiplinan petani dalam menerapkan seluruh komponen teknologi, mulai dari penggunaan benih, pemupukan, hingga pengaturan pengairan.

“Kalau semua komponen PM-AAS kita terapkan dengan baik, target 10 ton per hektare bisa dicapai,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait