Lombok Tengah

Peresean Kian Digemari Anak Muda, Pepadu Sebut Tradisi Sasak Ini Makin Mendunia

Lombok Tengah (NTBSatu) – Tradisi peresean di Pulau Lombok terus menunjukkan perkembangan positif. Tak hanya bertahan sebagai budaya warisan leluhur, atraksi adu ketangkasan khas Suku Sasak ini kini semakin diminati generasi muda hingga anak-anak.

Samsul Basri, pepadu yang tergabung dalam Paguyuban Gunung Tengger, Lombok Tengah mengatakan, minat masyarakat terhadap peresean cukup tinggi. Bahkan, saat ini muncul wacana agar peresean masuk dalam kurikulum muatan lokal (mulok) di sekolah.

“Banyak yang tertarik, apalagi sekarang ada wacana mau dimasukkan ke kurikulum pendidikan karena ini budaya khas Lombok,” ujarnya pada NTBSatu, Jumat 29 Mei 2026.

IKLAN

Menurutnya, peserta peresean kini bukan hanya orang dewasa. Anak-anak tingkat SD hingga SMP juga mulai ikut berlatih dan tampil dalam berbagai kegiatan budaya.

Ia sendiri mengaku, baru sekitar satu tahun bergabung di paguyuban tersebut. Meski masih tergolong pemula, latihan rutin tetap berjalan dua kali dalam seminggu pada malam hari.

“Kita ada latihan teknik menyerang, teknik pukul, dan lain-lain. Jadwalnya khusus dari paguyuban,” katanya.

IKLAN

Peresean selama ini dikenal sebagai tradisi adu rotan antar pepadu. Namun, di balik aksi saling pukul itu terdapat aturan dan filosofi yang dijaga turun-temurun.

Ia menjelaskan, terdapat batas-batas tertentu dalam memukul lawan. Bagian bawah tubuh yang tertutup kain panjang tidak boleh menjadi sasaran pukulan.

“Kalau lewat bawah itu tidak boleh kita pukul. Ada batasnya,” jelasnya.

Sejarah Singkat Paresean

Tak hanya itu, masyarakat mempercayai peresean juga memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan ritual memanggil hujan pada zaman dahulu. Masyarakat Lombok kala itu meyakini darah yang keluar dari pertarungan pepadu menjadi pertanda hujan akan turun.

“Dulu kalau musim kering, masyarakat mengadakan turnamen peresean. Kalau sudah keluar darah, kita percaya nanti akan turun hujan besar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dahulu unsur mistis masih sangat kental dalam tradisi tersebut. Namun kini, peresean lebih berkembang sebagai seni budaya sekaligus hiburan masyarakat.

Perkembangan peresean, kata dia, terlihat dari semakin banyaknya event yang digelar di berbagai daerah. Jika dulu hanya ramai saat Bau Nyale, kini pergelaran pertunjukan peresean rutin hampir setiap bulan, termasuk di kawasan Ex Bandara Selaparang dan sejumlah desa pesisir.

“Sekarang hampir semua wilayah pantai mengadakan peresean menjelang Bau Nyale. Bahkan di Lombok Timur dan Lombok Utara juga banyak kegiatan,” katanya.

Setiap paguyuban pun kerap saling mengundang untuk mempertemukan para pepadu dalam berbagai pertandingan budaya.

Dukungan Pemerintah Daerah

Di sisi lain, ia menyebut dukungan pemerintah terhadap pelestarian peresean cukup besar. Salah satunya melalui fasilitasi BPJS bagi para pepadu.

“Kemarin Pemda mengumpulkan semua paguyuban di kantor bupati untuk membahas keselamatan pepadu, terutama yang belum punya BPJS,” ujarnya.

Ia berharap, peresean ke depan semakin berkembang dan tekenal luas hingga tingkat internasional.

“Harapannya semoga makin berkembang di semua wilayah dan jadi budaya yang mendunia,” tutupnya. (*)

Zhafran Zibral

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait

Back to top button