Lombok Tengah

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Tekanan, Cerita Pelajar SMA di Lombok Tengah

Lombok Tengah (NTBSatu) – Menjadi remaja di bangku SMA tidak selalu mudah. Di balik aktivitas belajar dan pergaulan, banyak pelajar menyimpan tekanan yang jarang terlihat. Mulai dari tugas sekolah yang menumpuk hingga kecemasan memikirkan masa depan, semuanya ikut memengaruhi kesehatan mental mereka.

Dua siswa kelas X SMAN 1 Praya, Mentari Sulisni dan Lalu Zaidan Batilda, mengaku tantangan terbesar yang mereka rasakan adalah menyeimbangkan tuntutan sekolah sekaligus mempersiapkan masa depan. Mereka mulai memikirkan kuliah, pekerjaan, hingga berbagai jalur seleksi masuk perguruan tinggi.

“Banyak siswa merasa cemas memikirkan kuliah atau pekerjaan sehingga mudah merasa tertekan,” kata Mentari kepada NTBSatu, Minggu 5 Juli 2026.

IKLAN

Hal senada diungkapkan Zaidan. Menurutnya, ketidakpastian setelah lulus SMA menjadi salah satu sumber tekanan bagi remaja saat ini.

“Setelah lulus SMA saya harus ke mana, itu yang sering saya pikirkan. Kami juga mulai menghadapi TKA, SNBP, SNBT dan lain-lain, sehingga banyak anak merasa stres dan tertekan,” ujarnya.

Tekanan juga muncul ketika tugas sekolah datang bersamaan dengan ujian dan kegiatan lainnya. Untuk mengatasinya, Mentari memilih membuat jadwal belajar dan mengerjakan tugas berdasarkan tenggat waktu. Sementara Zaidan mengaku terkadang harus mengurangi waktu istirahat agar seluruh tugas dapat selesai tepat waktu.

IKLAN

Pengaruh Media Sosial

Media sosial juga memberi pengaruh besar terhadap kondisi psikologis remaja. Berbagai unggahan tentang prestasi dan kehidupan orang lain kerap membuat pelajar membandingkan diri mereka dengan orang lain.

“Saya juga pernah merasakannya, tetapi saya mencoba mengingat bahwa apa yang ada di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan sebenarnya,” ujar Mentari.

Sementara itu, Zaidan mengaku pernah merasa minder karena melihat temannya memiliki bakat dan prestasi yang lebih baik. Perasaan tersebut sempat membuat kepercayaan dirinya menurun.

Saat menghadapi stres atau banyak pikiran, tidak semua remaja memilih bercerita. Mentari lebih nyaman berbagi cerita dengan teman dekat dan keluarga. Sebaliknya, Zaidan mengaku lebih sering memendam perasaannya sendiri.

“Sekolah dan keluarga sebenarnya sudah menjadi tempat yang nyaman, tetapi saya masih belum berani untuk bercerita,” katanya.

Harapan Keduanya

Keduanya berharap sekolah, orang tua, dan pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental remaja. Mereka menilai layanan konseling yang aksesnya mudah dan komunikasi yang terbuka dapat membantu remaja menghadapi berbagai tekanan.

Di tengah tuntutan akademik dan sosial, mereka berharap kesehatan mental juga dapat perhatian. Sebab, tidak sedikit pelajar yang terlihat baik-baik saja ternyata sedang berjuang menghadapi tekanan dalam diam. (*)

Artikel Terkait