PemerintahanSumbawa Barat

Stunting di KSB Turun Jadi 6,77 Persen, 675 Balita Masih Perlu Intervensi

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Angka stunting di Kabupaten Sumbawa Barat menyusut menjadi 6,77 persen pada Triwulan III 2026. Capaian ini mencatat penurunan dari data periode Desember 2025 lalu yang berada pada angka 7,3 persen.

Dinas Kesehatan KSB mendata sebanyak 675 balita masih masuk kategori stunting dari total 9.970 anak yang menjalani pengukuran. Pemerintah daerah menjadikan ratusan balita tersebut sebagai sasaran utama fokus intervensi hingga akhir tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, dr. Carlof, M.MRS., MQM., memaparkan hasil evaluasi perkembangan gizi balita menjelang penutupan tahun anggaran 2026. Pihaknya memperketat pendampingan kesehatan dari hulu demi menekan sisa kasus yang ada.

“Data Triwulan III mencatat sasaran stunting sebanyak 675 balita dari 9.970 balita yang diukur,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 27 September 2026. 

Penanganan kasus berfokus pada pemantauan intensif kesehatan ibu hamil serta pemenuhan gizi masa kehamilan secara konsisten. Petugas lapangan sekaligus memperkuat edukasi pemberian ASI eksklusif dan pendampingan makanan pendamping ASI hingga usia dua tahun.

Tim Percepatan Penurunan Stunting KSB menggandeng mitra strategis untuk menggalakkan gerakan intervensi serentak di seluruh desa. Kegiatan ini mencakup penimbangan rutin, pengukuran antropometri, pemberian imunisasi, hingga pembagian makanan tambahan berbasis pangan lokal.

Layanan Puskesmas dan Penguatan Posyandu

Dinas Kesehatan KSB mengoptimalkan peran fasilitas kesehatan dasar demi mengawal target penurunan angka stunting di tingkat bawah. Langkah ini menuntut keaktifan seluruh petugas medis dalam mendampingi keluarga sasaran secara langsung.

Tenaga nutrisionis pada setiap UPTD Puskesmas wajib turun langsung menjadi pemateri pada kelas ibu hamil dan balita. Carlof kemudian menjelaskan teknis pendampingan tim medis di lapangan dalam menangani masalah gizi buruk tersebut.

“Nutrisionis UPTD Puskesmas mengawal tatalaksana masalah gizi balita serta mendampingi keluarga sasaran secara intensif,” tambahnya.

Seluruh Posyandu di tingkat desa mengoperasikan alat antropometri terstandar untuk menjamin keakuratan data tumbuh kembang anak. Petugas kesehatan mengunggah hasil pencatatan gizi tersebut secara berkala melalui aplikasi e-PPGBM.

Puskesmas terus memperkuat kolaborasi lintas sektor bersama jajaran camat, pemerintah desa, dan pihak swasta di Sumbawa Barat. Sinergi ini mempercepat penanganan balita berisiko stunting di setiap wilayah kecamatan.

Catatan kasus stunting di KSB sebelumnya terekam sebanyak 716 balita pada akhir tahun lalu. Pemerintah daerah terus mengevaluasi efektivitas program gizi ini demi memastikan kesehatan generasi masa depan. (*)

Artikel Terkait