HukrimKota Mataram

Kesaksian Korban Selamat Pembacokan di Udayana: Dikeroyok hampir 15 Orang

Mataram (NTBSatu) — Suasana duka menyelimuti Pemakaman Bintaro, Ampenan, Rabu, 28 Oktober 2026. Ratusan warga, keluarga, kerabat, hingga rekan sekolah mengantarkan Muhammad Gibran Anugrah Aditya ke peristirahatan terakhirnya.

Pelajar SMPN 3 Mataram tersebut meninggal dunia usai menjalani perawatan intensif di RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 14.58 Wita.

Korban mengembuskan napas terakhir akibat luka berat usai pembacokan yang diduga oleh sekelompok geng motor kawasan Jalan Udayana, Minggu, 25 Oktober 2026 dini hari.

Kesaksian Korban Selamat: Dikeroyok 15 Orang

Fahmi, rekan korban yang selamat dari aksi keji tersebut, membeberkan kronologi penyerangan yang merenggut nyawa sahabatnya.

Menurut Fahmi, malam itu mereka bertiga berboncengan menggunakan satu sepeda motor menuju kawasan Udayana untuk mencari makan, mengingat pagi harinya akan berlangsung kegiatan Car Free Day (CFD).

Namun, perjalanan mereka mendadak terhenti saat belasan pengendara motor mengepung dari berbagai arah.

“Kami bertiga boncengan mau cari makan. Tiba-tiba motor kami diserang sekitar 15 orang. Saya sama satu teman berhasil kabur minta tolong, tapi Gibran, dia tersungkur pingsan lalu jadi bulan-bulanan para pelaku,” ungkap Fahmi.

Sementara itu, pihak keluarga telah resmi melaporkan tragedi ini ke Polresta Mataram. Ewiyani, ibu kandung almarhum Gibran, mendesak kepolisian bergerak cepat menangkap seluruh anggota geng motor yang terlibat.

“Kami sudah melapor ke Polresta Mataram. Saya mohon polisi segera mengusut tuntas, menangkap para pelaku, dan memproses hukum seadil-adilnya,” tegas Ewiyani.

Respons Wali Kota Mataram

Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menyampaikan ucapan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban. Ia menegaskan, pihak pemerintah daerah masih menunggu hasil pemeriksaan kepolisian untuk memastikan motif penyerangan.

Sebagai langkah antisipasi, Mohan menginstruksikan seluruh jajaran camat, lurah, hingga pengurus lingkungan guna mengaktifkan kembali siskamling serta memperketat penjagaan wilayah. Ia pun meminta para orang tua agar lebih ketat mengawasi pergerakan anak-anak mereka.

“Kami butuh aksi bersama untuk memperketat pengawasan lingkungan dan memastikan keamanan anak-anak kita dari potensi ancaman kekerasan jalanan,” tegas Mohan. (*)

Artikel Terkait