Warga Kaitkan Gempa Sebagai Pertanda Musim Hujan, Ini Penjelasan BMKG
Mataram (NTBSatu) – Gempa bermagnitudo 5,2 mengguncang NTB pada Rabu, 7 Oktober 2026, dini hari. Gempa tersebut berpusat di Lombok Barat. Sejumlah warga kemudian mengaitkan gempa sebagai tanda datangnya musim hujan.
Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) NTB, Nuga Putrantijo, meluruskan anggapan tersebut. Ia menegaskan, gempa tektonik tidak memiliki hubungan langsung dengan datangnya musim hujan.
“Tidak ada keterkaitan antara gempa dengan hujan,” kata Nuga kepada NTBSatu, Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurut Nuga, gempa tektonik terjadi karena proses pergerakan lempeng bumi. Ia menjelaskan, lempeng Indo-Australia bergerak dan menunjam ke bawah lempeng Eurasia.
Proses tektonik tersebut memicu pelepasan energi yang menghasilkan gempa. Karena itu, masyarakat tidak bisa menggunakan gempa sebagai penanda datangnya musim hujan.
Tidak menutup kemungkinan hujan turun setelah gempa. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menandakan wilayah telah memasuki musim hujan.
“Kalau misalnya akan terjadi hujan, bisa jadi. Tetapi belum masuk kategori musim hujan,” ujarnya.
BMKG memiliki parameter tertentu untuk menetapkan suatu wilayah memasuki musim hujan. Parameter tersebut menentukan musim hujan ketika curah hujan sebesar 50 milimeter kubik persegi.
Karena itu, BMKG tidak menetapkan musim hujan hanya berdasarkan satu kejadian alam. Nuga menyebut, musim hujan NTB diperkirakan mulai sekitar November hingga Desember. Masyarakat tetap perlu menunggu perkembangan kondisi atmosfer sebelum menyimpulkan perubahan musim.
Aktivitas Gempa Tak Bisa Dibaca Sederhana
Akademisi Ilmu Kebumian Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram turut menjelaskan anggapan masyarakat terkait aktivitas gempa.
Pakar Kebumian dan Perubahan Iklim UIN Mataram, Irwan, Ph.D., meminta masyarakat tidak menyederhanakan aktivitas gempa. Menurutnya, gempa pada satu wilayah tidak otomatis memicu gempa besar di wilayah lain.
“Artinya gempa yang terjadi di satu tempat, misalnya NTT, tidak akan sama dengan gempa besarnya dengan yang di Lombok,” ujar Irwan.
Ia menjelaskan, setiap wilayah memiliki karakter struktur geologi yang berbeda. Gelombang gempa memang dapat merambat dan terasa hingga wilayah lain. Namun, kondisi tersebut berbeda dari anggapan bahwa satu gempa memindahkan energi besar ke wilayah lain.
Irwan juga menyinggung aktivitas gempa setelah gempa besar Lombok Utara pada 2018. Saat itu, sekitar 4.500 gempa tercatat selama periode Juli hingga September 2018.
Menurut Irwan, kondisi tersebut berkaitan dengan karakter struktur geologi wilayah Lombok Utara. Namun, rentetan gempa tersebut tidak dapat menjadi penentu waktu terjadinya gempa megathrust.
Sementara itu, Nuga meminta masyarakat tidak mengaitkan gempa dengan perubahan musim secara langsung. Ia juga mengingatkan masyarakat menghadapi kondisi panas yang masih terjadi di NTB.
Masyarakat sebaiknya memperbanyak konsumsi air untuk menjaga kondisi tubuh. Warga juga perlu mengurangi aktivitas di bawah paparan matahari langsung.
“Kalau memang perlu ke sana kemari, mungkin pakai pelindung, seperti topi atau payung,” tutupnya. (*)




