NTBPemerintahan

Inflasi NTB Aman di Angka 3,24 Persen, Tiga Kabupaten Kota Kompak Deflasi

Mataram (NTBSatu) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat inflasi pada Oktober 2026 terkendali dengan baik dan kembali berada dalam rentang sasaran pemerintah.

Kondisi tersebut karena adanya penurunan harga sejumlah komoditas pangan utama. Hal ini memberikan andil besar terhadap pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulanan.

Kepala BPS NTB, Wahyudin, menyampaikan perkembangan harga di tingkat lokal menunjukkan tren positif bagi stabilitas ekonomi masyarakat sepanjang bulan laporan. Penurunan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi faktor utama penekanan angka inflasi daerah.

“Pada bulan Oktober 2026 terjadi deflasi sebesar 0,56 persen,” ujarnya pada Senin, 2 November 2026.

Inflasi Masuk Kembali Rentang Target

Capaian bulanan tersebut turut memengaruhi pergerakan tingkat inflasi tahunan atau year on year (YoY) di NTB. Berdasarkan data BPS, inflasi tahunan NTB pada Oktober 2026 berada di posisi 3,24 persen. Angka ini berarti berhasil kembali masuk ke dalam rentang target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus satu persen.

Pada bulan sebelumnya, angka inflasi tahunan sempat tercatat berada di luar batas atas target pemerintah akibat tekanan kenaikan harga beberapa komoditas strategis.

Langkah koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui penyelenggaraan pasar murah serta pemantauan harga intensif dinilai berhasil meredam laju kenaikan harga di pasaran.

Secara rinci, tiga kabupaten dan kota yang menjadi sampel penghitungan inflasi di NTB seluruhnya mencatatkan deflasi secara month to month. Kabupaten Sumbawa juga mencatatkan deflasi terdalam sebesar 1,04 persen. Selanjutnya, Kota Mataram sebesar 0,33 persen, dan Kota Bima sebesar 0,04 persen.

Komoditas Penyumbang Deflasi dan Inflasi

Penurunan indeks harga konsumen pada Oktober 2026 oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau dengan andil deflasi yang signifikan. Sejumlah komoditas perikanan dan bahan pangan segar mengalami koreksi harga akibat pasokan yang melimpah di pasar tradisional.

“Komoditas penyumbang deflasi terbesar antara lain ikan layang atau ikan benggol, daging ayam ras, ikan tongkol, serta cumi-cumi dan udang basah,” lanjutnya.

Kendati demikian, BPS mencatat masih terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga dan memberikan andil inflasi, seperti cabai merah, kol putih atau kubis, air kemasan, tomat, serta kenaikan harga pada sektor transportasi dan kendaraan bermotor.

Wahyudin memastikan pengawasan terhadap komoditas pangan tetap diperlukan guna menjaga daya beli masyarakat menjelang akhir tahun. (*)

Artikel Terkait