Lombok Timur

Warga Sembalun Bongkar Identitas Asli Agam ‘Rinjani’

Mataram (NTBSatu) – Status kependudukan serta legalitas izin usaha salah satu pelaku wisata sekaligus kreator konten senior di Gunung Rinjani, Agam ‘Rinjani’ akhirnya terungkap ke publik.

Agam kini terkonfirmasi telah resmi beralih status secara administrasi sebagai warga Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Salah seorang warga Sembalun, Royall Sembahulun mengatakan, Agam saat ini sudah menjadi warga Lombok. “Agam itu sekarang abang tahu enggak dia KTP mana? Dia KTP Sembalun. Kalau enggak KTP Sembalun, dia enggak dapat izin di situ berbisnis Rinjani,” ujarnya dalam siniar bersama NTBSatu pada Sabtu, 27 Juni 2026.

IKLAN

Langkah perpindahan administrasi kependudukan ini merupakan syarat mutlak bagi setiap pelaku jasa pariwisata di kawasan tersebut. Berdasarkan regulasi lokal, setiap individu yang ingin mengurus izin usaha maupun aktivitas komersial di Gunung Rinjani, wajib mengantongi KTP Lombok.

Menepis Isu Asal-usul dan Transparansi Dana

Sebelum resmi mengantongi KTP Sembalun, latar belakang daerah asal Agam sempat memicu perdebatan di kalangan ekosistem pariwisata Rinjani.

Penegasan status kependudukan ini memperjelas bahwa secara hukum Agam kini merupakan bagian dari warga lokal lingkar Rinjani. Meskipun aspek suku asal dari Sulawesi tetap melekat pada identitas aslinya.

IKLAN

Selain persoalan KTP, sorotan publik belakangan ini mengarah pada transparansi pengelolaan donasi serta tuduhan eksploitasi narasi penyelamatan demi kepentingan pribadi.

Sebelumnya, Agam sempat memicu protes keras dari sejumlah elemen masyarakat lokal, termasuk kelompok Gerakan Advokasi Nusantara (GANAS) Lombok Timur. Mereka menuntut adanya klarifikasi terbuka. Namun hingga saat ini, Agam cenderung memilih untuk tidak memberikan respons atas kritik tersebut.

Selain itu, Royall dalam pembahasan tersebut menegaskan bahwa kejelasan status dan transparansi sangat krusial untuk menyudahi kecurigaan di lapangan.

“Ayo Bang Agam, kita selesaikan masalah ini agar tidak ada dusta di antara kita. Kami tidak mengharapkan sepeser pun uang dari yang Agam dapatkan dari donasi,” lanjutnya.

Rekonsiliasi demi Masa Depan Rinjani

Fokus utama dari penyelesaian kemelut administrasi dan rumor ini adalah merajut kembali persatuan antar pelaku wisata di Rinjani.

Pengelola dan sesama pelaku usaha berharap tidak ada lagi sentimen negatif yang dipelihara secara berlarut-larut. Apalagi mengingat agenda besar penguatan etika pariwisata dan pengelola kawasan Rinjani memerlukan solidaritas semua elemen.

Sebagai figur yang memiliki pengaruh besar di media sosial dan dunia pendakian Rinjani, Agam memikul tanggung jawab moral yang besar. Keberhasilan reputasi yang ia petik hari ini merupakan hasil dari interaksi panjang dengan alam dan komunitas lokal di Lombok.

Kepatuhan terhadap aturan administratif dan keterbukaan terhadap kritik publik diharapkan mampu sebagai momentum pembenahan tata kelola ekowisata yang lebih sehat dan beretika.

Sementara itu, Agam Rinjani sendiri hingga saat ini belum memberikan tanggapan. NTBSatu sudah berusaha menghubungi melalui pesan WhatsApp dan beberapa media sosial. Namun, hingga berita ini terbit, belum mendapatkan jawaban. (*)

Artikel Terkait