Rupiah Tertekan, Jokowi Yakin Kurs Bisa Menguat Kembali di Tengah Ketidakpastian Global
Mataram (NTBSatu) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin mendekati level 16.300 per dolar AS.
Pada perdagangan Senin 10 Juni 2024, rupiah ditutup di posisi 16.283 per dolar AS, menandai tekanan yang signifikan pada mata uang Indonesia.
Melansir dari Kompas.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tetap optimis bahwa ada celah untuk penguatan rupiah.
Ia menegaskan bahwa pelemahan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di berbagai negara lain akibat ketidakpastian global.
“Semua negara sekarang ini mengalami hal yang sama, tertekan oleh yang namanya dolar. Ketidakpastian global sekarang ini memang menghantui semua negara,” ujar Jokowi
“Tapi menurut saya, kalau masih di angka Rp16.200-16.300 masih bisa disiasati,” tambahnya.
Sebelumnya, Jokowi sempat mengakui kecemasannya melihat kurs rupiah yang melampaui Rp16.000 per dolar AS.
Ia menyebut kenaikan kurs ini sebagai salah satu hal yang ditakuti oleh semua negara.
Berita Terkini:
- Mantan Kepala BPN Sumbawa Praperadilankan Kejati NTB Kasus Lahan Samota
- Media Sosial Ramai Soroti Dugaan Keterlibatan Kapolres Bima Kota dalam Kasus Kasat Resnarkoba
- Rumah Singgah Baznas NTB di Denpasar Jadi Prioritas Layanan Kesehatan Sesuai Arahan Gubernur NTB
- Pembangunan Kantor Wali Kota Mataram Tahap II Resmi Masuk Lelang Konsultan
- Cerita Christy Gardena Gadis Asal Lombok Dapat Tawaran dari 88rising Gabung No Na
“Kemarin kita agak ngeri juga waktu kurs rupiah ke dolar melompat di atas 16.000, 16.200. Kita mulai ketar-ketir karena negara lain melompat,” ungkap Jokowi.
Menurut Jokowi, kenaikan kurs berdampak pada harga barang, terutama produk impor.
“Begitu kuat dolar, hati-hati ada harga yang naik. Tapi kalau kuat rupiah, harga impor jadi jauh lebih murah. Ini yang ditakuti negara-negara, semua negara, kurs,” jelasnya.
Selain itu, Jokowi mengingatkan bahwa perang yang masih berlangsung di Palestina dapat mempengaruhi harga minyak, yang pada gilirannya akan menyebabkan lonjakan harga barang-barang.
“Perang yang jauh dari kita bisa berpengaruh ke Indonesia. Kalau harga minyak karena produksi Iran turun, artinya semua barang-barang akan ikut naik,” ujarnya.
Dia juga mencontohkan perang di Ukraina yang telah menyebabkan lonjakan harga barang di Indonesia.
Jokowi menekankan bahwa konflik antar negara memiliki dampak signifikan yang tidak bisa diremehkan.
“Perang yang terjadi antar negara tak bisa dianggap remeh karena akan berpengaruh terhadap Indonesia,” tutupnya. (WIL)



