Lombok Timur

Kebakaran Hutan di Bukit Pal Jepang Meluas hingga 122 Hektar, Diduga Dipicu Pemburu Liar

Mataram (NTBSatu) – Kebakaran hutan melanda Bukit Pal Jepang dan Bukit Jaran Kurus, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur sejak Jumat, 26 Juni 2026. Hingga Minggu, 28 Juni 2026, total luas lahan yang hangus terbakar mencapai 122 hektare.

Kebakaran ini mencakup vegetasi savana, ilalang kering, semak belukar, hingga pohon cemara. Kepala Seksi Pengamanan, Konservasi Sumber Daya Alam, dan Ekosistem (PKSDAE) BKPH Wilayah II Lombok Timur, Lalu Iskandar, membenarkan peristiwa tersebut.

“Benar. Tim gabungan terus berupaya mengendalikan situasi di lapangan. Kami memprioritaskan pembuatan sekat bakar. Hal ini untuk melokalisasi api agar tidak meluas ke area yang lebih rawan,” ujarnya kepada NTBSatu pada Minggu, 28 Juni 2026.

IKLAN

Sebelumnya, operasi pemadaman hari kedua pada Sabtu, 27 Juni 2026 pukul 09.30 Wita, 25 personel BKPH menuju lokasi kejadian. Kekuatan ini bertambah dengan bergabungnya 2 personel Polsek Sembalun, 9 anggota Balai Dalkarhutla JabalNusra, dan seorang relawan.

Mereka menyisir titik api di antara pal batas hutan B 1702 sampai B 1716 dengan berjalan kaki menuju jalur Pusuk. Dalam operasi tersebut, tim menghadapi kendala medan yang sangat terjal dan ekstrem.

Petugas menggunakan peralatan seadanya seperti parang dan ranting pohon untuk memadamkan kobaran api. Sebelumnya sebagian besar titik api di punggungan Bukit Jaran Kurus sempat mengecil pada sore hari.

IKLAN

Namun pada pukul 14.40 Wita, tim terpaksa menghentikan sementara operasi karena tebalnya kabut dan kegelapan dan demi keselamatan personel.

Indikasi Perburuan Liar dan Cuaca Ekstrem

Pihak otoritas menduga kuat aktivitas manusia sebagai pemicu utama kebakaran tersebut. Selanjutnya, angin kencang dan suhu udara yang tinggi mempercepat perambatan api pada vegetasi yang mengering.

“Informasi sementara yang kami himpun menunjukkan indikasi bahwa kebakaran ini akibat ulah orang tidak dikenal (OTK). Petugas masih sering menemukan aktivitas perburuan liar di sekitar wilayah RPH Suela,” lanjutnya.

Selain itu, cuaca ekstrem berupa kemarau panjang membuat vegetasi di kawasan lindung Desa Sapit sangat rentan. Tingkat kemiringan lahan yang curam juga menyulitkan pergerakan personel untuk mencapai titik api dengan cepat.

Meski demikian, otoritas terkait memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun kerugian materiil berupa ekosistem hutan lindung cukup signifikan.

Perjuangan Hari Ketiga di Jalur Temosok

Selanjutnya, memasuki hari ketiga pada Minggu, 28 Juni 2026, kepulan asap dan kobaran api terpantau masih terlihat di beberapa titik strategis.

Sebanyak 25 personel gabungan yang terdiri dari BKPH Wilayah II dan Pasukan Manggala Agni Dalkarhut Wilayah III Mataram kembali mendaki gunung.

Lalu Iskandar menegaskan bahwa seluruh personel memiliki komitmen penuh untuk menuntaskan misi ini di tengah tantangan alam yang berat.

“Tim hari ini sudah bergerak ke titik api. Kami memegang prinsip pantang pulang sebelum asap hilang,” tegasnya. (*)

Artikel Terkait