Anggaran Cair Setengah dari Harapan, Ketua Pelatda KSB: Jangan Kendor karena Fasilitas
Sumbawa Barat (NTBSatu) — Keterbatasan anggaran tidak menyurutkan ambisi Kontingen Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) untuk bersinar pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB.
Meskipun realisasi dana Pelatihan Daerah (Pelatda) baru menyentuh setengah dari ekspektasi awal, namun pihak manajemen memastikan intensitas latihan atlet tetap berjalan maksimal.
Ketua Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) KSB, M. Nasir, terus mematangkan kesiapan fisik para atlet. Terlebih lagi, pemusatan latihan ini kini telah memasuki bulan ketiga masa persiapan.
Di sisi lain, grafik performa seluruh cabang olahraga (cabor) terus meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, tim menjadwalkan keberangkatan menuju Kota Mataram pada 15 Juli mendatang.
Ketua Pelatda KSB meminta seluruh atlet tetap fokus pada sisa waktu persiapan. Dengan demikian, atlet tidak boleh terganggu oleh kendala fasilitas pendukung minor di lapangan.
Selain itu, manajemen merasa optimistis bahwa dinamika anggaran ini tidak akan mereduksi misi besar daerah. Sebaliknya, rombongan tetap mengusung target utama untuk memperbaiki peringkat dalam Porprov 2026.
“Kebutuhan kami itu saja yang tidak begitu sesuai dengan harapan, anggaran yang kami harapkan begitu memenuhi tapi ya setengahnya dari itu. Tapi tidak menyurutkan semangat kami untuk mempersiapkan, tetap dengan semangat yang sama,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 10 Juni 2026.
Hingga saat ini, sejumlah cabor unggulan seperti bulu tangkis, atletik, silat, tinju, hingga panahan menunjukkan progres fisik meyakinkan. Berdasarkan evaluasi berkala tim pemantau, kesiapan tanding atlet kini bahkan sudah mendekati 90 persen.
Manajemen Pelatda juga bergerak cepat merampungkan pengadaan perlengkapan tanding. Padahal, saat ini sejumlah logistik utama masih dalam proses pemesanan.
Khususnya, cabor Ikatan Motor Indonesia (IMI) KSB dan Perbakin menjadi perhatian utama manajemen. Langkah ini demi memastikan seluruh fasilitas mekanik serta properti lomba tiba sebelum hari keberangkatan.
Guna mengantisipasi kendala teknis akibat keterbatasan logistik harian, internal Pelatda kemudian menerapkan prinsip pemanfaatan sumber daya lokal secara kreatif.
Selanjutnya, manajemen menanamkan komitmen ini kuat-kuat kepada seluruh jajaran pelatih dan ofisial. Tentu saja, upaya tersebut bertujuan untuk menjaga mentalitas juang di tempat latihan.
“Jangan biarkan keterbatasan logistik mereduksi intensitas latihan kita. Esensi prestasi adalah konsistensi dan adaptabilitas di lapangan. Jika suplemen ideal sedang terbatas, kita harus taktis menggunakan alternatif pangan lokal demi menjaga energi atlet,” tegasnya.
Jamin Kesehatan Atlet
Bukan hanya masalah logistik, pihak KONI KSB juga menjamin urusan pelayanan medis dan penanganan cedera atlet selama masa persiapan tetap berjalan aman. Mengenai hal itu, KONI KSB telah mengunci komitmen kerja sama operasional dengan instansi kesehatan daerah.
Dampaknya, sistem rujukan darurat dan pendampingan fisioterapi kini melekat penuh pada setiap jadwal latihan terpusat. Manajemen menerapkan skema ini secara disiplin di masing-masing cabor.
Sebab, manajemen menerapkan langkah ini agar kondisi kebugaran dan proteksi kesehatan atlet tidak luput dari perhatian di tengah efisiensi operasional.
“Kalau persoalan itu tentang masalah penanganan tentang menjaga kesehatan atlet selama proses Pelatda, itu dari cabor sendiri langsung komunikasikan dengan pihak kesehatan. Dari KONI sendiri sudah ada kerja sama secara khusus dengan pihak kesehatan,” jelasnya.
Di samping itu, pengurus olahraga dan pemerintah daerah terus mengintensifkan koordinasi tingkat tinggi. Langkah bersama ini bertujuan mencari jalan keluar bagi pemenuhan sisa kebutuhan vital.
Oleh karena itu, Ketua KONI KSB juga telah membangun komunikasi strategis bersama Bupati KSB. Komunikasi ini berjalan khusus untuk mengamankan dukungan suplemen tambahan bagi atlet.
Maka dari itu, pemerintah daerah berkomitmen penuh mengawal kebutuhan kontingen secara proporsional. Pengawalan ketat ini berjalan demi mencegah kendala fatal saat kompetisi dimulai.
Pada akhirnya, pihak manajemen terus mengupayakan aliran anggaran tambahan secara taktis. Langkah pendanaan ini berjalan semata-mata demi menjaga marwah prestasi daerah di tingkat provinsi.
“Tantangan itu tentunya Ketua KONI sendiri yang mengatur bersama Bapak Bupati, pimpinan atau kepala daerah itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang menjadi kebutuhan vital untuk kami,” tandasnya. (*)




