Ekonomi Bisnis

Bulog Pastikan Stok Pangan di NTB Aman, Cukup untuk 26 Bulan ke Depan

Mataram (NTBSatu) –  Perum Bulog memastikan ketersediaan stok pangan di NTB dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan hingga beberapa bulan ke depan.

Hingga awal November 2026, realisasi serapan gabah, beras, dan jagung di wilayah ini telah mendekati target akhir tahun.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Mara Kamin Siregar mengungkapkan, total stok pangan yang dikuasai saat ini mencapai sekitar 270.000 ton, yang dinilai sangat aman untuk kebutuhan 26 bulan ke depan.

“Stok kita InsyaAllah cukup aman untuk 26 bulan ke depan, kurang lebih di 270.000 ton. Sampai dengan hari ini kami masih terus melakukan serapan baik gabah, beras, maupun jagung,” ujarnya, kemarin.

Ia membeberkan, untuk komoditas jagung saja, Bulog tercatat telah menyerap sekitar 65.000 ton dan proses penyerapan masih terus berjalan di lapangan.

Sementara itu, progres serapan gabah dan beras secara keseluruhan telah mencapai 97,58 persen pada minggu pertama November. Bulog optimis target serapan sebanyak 240.000 ton dapat terealisasi 100 persen pada minggu kedua bulan ini.

Antisipasi Lonjakan Produksi

Menghadapi prediksi peningkatan produksi padi di NTB pada tahun 2026, Bulog telah menyiapkan langkah mitigasi melalui distribusi ke luar daerah. Hal ini guna mengantisipasi potensi penurunan harga di tingkat petani.

Pihaknya,  telah mengusulkan pengiriman sekitar 25.000 ton cadangan pangan ke sejumlah wilayah defisit stok. Sekitar 60 persen dari alokasi tersebut dikirim ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemudian, Bali dan DKI Jakarta, serta membuka opsi pengiriman lanjutan ke wilayah timur seperti Ambon dan Papua.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pusat untuk menggerakkan stok yang ada di NTB supaya gudang tidak terlalu penuh, lalu dikirim ke teman-teman di wilayah Timur, NTT, DKI, dan Bali guna kesiapan menghadapi semester pertama 2027,” jelasnya.

Guna mengantisipasi lonjakan serapan dan produksi ke depan, Bulog mendapatkan alokasi pembangunan unit gudang baru di enam titik di NTB. Tersebar di cabang Bima, Lombok Timur, Sumbawa, dan Pulau Lombok.

Kapasitas gudang baru bervariasi, mulai dari 1.000 ton hingga gudang berkapasitas terbesar mencapai 3.500 ton di wilayah Lombok.

Saat ini, total infrastruktur penyimpanan Bulog di NTB mencakup 16 gudang milik sendiri dengan kapasitas 117.000 ton, dan sekitar 150.000 ton dari penyewaan gudang swasta, sehingga total kapasitas penyimpanan mencapai sekitar 250.000 ton lebih.

Stabilitas Harga dan Keamanan Pangan

Di tengah dinamika harga, Bulog terus menggencarkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Mereka bekerja sama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah kota/kabupaten, serta pemerintah provinsi. 

“Fokus kita itu SPHP diarahkan ke pasar-pasar rakyat seperti SP2KP serta Rumah Pangan Kita (RPK) dari tingkat kelurahan dan kecamatan,” kata dia

Ia menegaskan, Masyarakat agar tidak melakukan panic buying karena ketersediaan stok mereka pastikan aman. Sinergi bersama Dinas terkait serta kepolisian (Polda/Polres) melalui Gerakan Pangan Murah juga terus sesuai permintaan masyarakat.

“Bulog siap melakukan serapan gabah, beras, dan jagung, dan kami pastikan stok aman untuk mengawali tahun 2027,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso meninjau ketersediaan bahan pokok (bapok) di Pasar Kebon Roek, Kota Mataram, Kamis, 5 November 2026.

Kegiatan ini bertujuan menjaga stabilitas inflasi serta ketahanan pangan daerah dalam menghadapi Hari Raya Natal dan Tahun Baru (Nataru)

Dari hasil pemantauan langsung ke para pedagang, stok pangan pokok di NTB terbukti aman dan harganya masih terkendali. Bahkan, melimpahnya pasokan membuat sejumlah komoditas strategis yang terjual jauh di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP).

“Kita akan menyalurkan surplus pangan NTB untuk menyuplai daerah lain yang mengalami defisit pasokan atau lonjakan harga,” pungkasnya, Kamis, 6 November 2026. (*)

Artikel Terkait