AdvertorialPendidikan

Inovasi Sabun Berbasis Anggur Laut Dorong Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Mataram (NTBsatu) – Pemanfaatan potensi sumber daya pesisir terus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan produk inovatif bernilai ekonomi. Salah satunya melalui pengolahan anggur laut (Caulerpa racemosa) sebagai bahan dasar pembuatan sabun.

Inovasi tersebut menjadi fokus kegiatan pengabdian kepada masyarakat Universitas Mataram (Unram) bertajuk “Inovasi Produk Sabun Berbasis Anggur Laut (Caulerpa racemosa) untuk Pemberdayaan Masyarakat Pesisir”. Tim pengabdian menggelar kegiatan tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Agus Dwi Ananto memimpin tim pengabdian bersama empat anggota, yakni Lina Permatasari, Rizqa Fersiyana Deccati, Selvira Anandia Intan Maulidya, dan Ramadian Ridho Illahi. Kegiatan ini juga melibatkan lima mahasiswa, yaitu Nathania Hanin Samara, Ni Made Sakila Anjani Putri, Raden Roro Elvina Chandra Yani, Aluh Windayu, dan Sumayyah.

Sebanyak 46 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mayoritas peserta merupakan ibu rumah tangga sebanyak 26 orang, kemudian 14 pelajar. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan tiga kader, satu buruh ikan, satu pedagang, serta satu peserta yang belum bekerja.

Keberagaman latar belakang peserta menunjukkan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat dalam mengenal potensi anggur laut sebagai bahan alternatif untuk pengembangan produk sabun.

Anggur Laut Punya Potensi Jadi Produk Inovatif

Melalui kegiatan tersebut, tim pengabdian mengenalkan pemanfaatan anggur laut sebagai bahan inovasi produk sabun. Selama ini, masyarakat mengenal Caulerpa racemosa sebagai salah satu sumber daya hayati pesisir yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

Namun, potensi anggur laut tidak terbatas pada kebutuhan konsumsi. Pengembangan bahan tersebut menjadi produk sabun menawarkan alternatif pemanfaatan sumber daya lokal sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah.

Ketua tim pengabdian kepada masyarakat, Agus Dwi Ananto, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan potensi sumber daya pesisir melalui pengembangan produk inovatif.

“Kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat bahwa sumber daya yang ada di lingkungan pesisir, salah satunya anggur laut (Caulerpa racemosa), tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk inovatif yang memiliki nilai tambah. Melalui kegiatan ini, kami mencoba menghubungkan pengetahuan yang ada di perguruan tinggi dengan potensi yang dimiliki masyarakat.”

Selain mengenalkan inovasi produk, kegiatan ini juga mempertemukan pengetahuan akademis dengan kebutuhan masyarakat. Keterlibatan mahasiswa turut memberikan pengalaman praktis dalam berinteraksi dan berkontribusi pada program pemberdayaan masyarakat pesisir.

Pemahaman Peserta Meningkat 27,88 Persen

Tim pengabdian turut mengukur keberhasilan kegiatan melalui evaluasi pemahaman peserta sebelum dan sesudah mengikuti program. Evaluasi tersebut menggunakan metode pretest dan post-test.

Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata nilai peserta pada tahap pretest mencapai 71,74. Setelah mengikuti kegiatan, rata-rata nilai tersebut meningkat menjadi 91,74 pada tahap post-test.

Capaian tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 20 poin atau sekitar 27,88 persen dibandingkan nilai awal. Peningkatan ini menjadi indikator bertambahnya pemahaman peserta mengenai materi pemanfaatan anggur laut sebagai bahan inovasi produk sabun.

Agus menyampaikan bahwa peningkatan pengetahuan peserta menjadi salah satu hasil penting dari pelaksanaan program pengabdian tersebut.

Ke depan, inovasi sabun berbasis anggur laut berpotensi menjadi salah satu alternatif pengembangan sumber daya lokal. Pengetahuan yang peserta peroleh juga dapat menjadi bekal awal untuk mengenali peluang pemanfaatan potensi pesisir secara lebih kreatif.

Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat turut memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendorong pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan semacam ini, pengetahuan akademis dapat menjangkau masyarakat sekaligus mendukung pengembangan inovasi berbasis potensi lokal. (*)

Artikel Terkait