Disparekraf NTB Perkuat Kolaborasi dengan Gekraf, Dorong Ekonomi Kreatif di Destinasi Wisata
Mataram (NTBSatu) – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat kolaborasi dengan Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekraf) untuk mendorong pertumbuhan pelaku usaha kreatif di daerah. Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan destinasi wisata di NTB.
Upaya tersebut disampaikan dalam momentum peringatan hari ulang tahun Gekraf, Sabtu, 24 Oktober 2026 di Kantor Disparekraf NTB. Kegiatan itu juga menjadi ajang memperkuat komitmen bersama antara pemerintah daerah dan organisasi pelaku ekonomi kreatif, termasuk pengurus tingkat provinsi serta kabupaten/kota yang baru dilantik.
Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi Pariwisata, Disparekraf NTB, Chandra Aprinova menyampaikan, Gekraf memiliki peran penting dalam membina para artisan dan pelaku usaha ekonomi kreatif. Karena itu, kerja sama dengan organisasi tersebut akan terus diperkuat untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Ke depan, kita akan terus berkolaborasi dengan Gekraf. Momentum hari ulang tahun ini kita gunakan untuk memperkuat dan membangun komitmen kebersamaan antara Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Gekrafs,” ujarnya.
Menurutnya, ekonomi kreatif merupakan sektor usaha yang bertumpu pada inovasi, inisiatif, dan kreativitas masyarakat dalam menghasilkan produk maupun jasa yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
NTB memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor tersebut, terutama dengan keterlibatan generasi muda yang terus melahirkan berbagai karya kreatif. Ekonomi kreatif sendiri mencakup 17 subsektor yang dapat dikembangkan sesuai potensi dan karakteristik masing-masing daerah.
Dia mencontohkan, kegiatan cosplay atau permainan kostum hingga modifikasi kendaraan merupakan bentuk kreativitas yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha. Peluang tersebut juga dapat melibatkan pelaku usaha lain, seperti bengkel modifikasi kendaraan.
“Banyak anak muda yang sekarang aktif di bidang ekonomi kreatif. Contohnya cosplay yang unik, termasuk modifikasi motor, baik dari tampilan, cat maupun bentuknya. Ini juga bisa berkembang dan melibatkan teman-teman dari usaha bengkel,” jelasnya.
Destinasi Wisata Harus Terhubung dengan Ekonomi Kreatif
Disparekraf NTB juga mendorong agar setiap destinasi wisata tidak hanya mengandalkan daya tarik alam dan fasilitas pariwisata, tetapi turut dilengkapi dengan usaha ekonomi kreatif sebagai pendukung.
Produk ekonomi kreatif dapat berupa suvenir, kerajinan, kuliner, hingga jasa yang dibutuhkan wisatawan selama berkunjung ke destinasi wisata maupun desa wisata.
Menurutnya, keterhubungan antara destinasi wisata dan usaha ekonomi kreatif penting untuk menciptakan ekosistem yang saling melengkapi. Dengan demikian, kunjungan wisatawan diharapkan tidak hanya meningkatkan aktivitas pariwisata, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
“Setiap destinasi wisata ke depan harus dilengkapi dengan usaha ekonomi kreatif sebagai pelengkap atau mitranya. Melalui ekonomi kreatif, kita bisa memberikan pelayanan berupa barang maupun jasa kepada wisatawan, baik untuk suvenir maupun produk yang dinikmati di destinasi dan desa wisata,” katanya.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Disparekraf NTB akan memperkuat pendataan pelaku ekonomi kreatif melalui kepengurusan di tingkat kabupaten/kota.
Pendataan diperlukan untuk mengetahui potensi, sebaran, serta perkembangan pelaku usaha ekonomi kreatif di masing-masing wilayah. Namun, jumlah pasti pelaku usaha yang telah terverifikasi masih perlu dipastikan melalui pendataan lebih lanjut.
Perkuat Pemasaran Digital
Selain pendataan dan pengembangan ekosistem usaha, Disparekraf NTB juga telah menggelar sejumlah pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pelaku ekonomi kreatif.
Pelatihan tersebut mencakup pengembangan usaha dan pemasaran berbasis teknologi digital. Langkah ini dinilai penting karena pemasaran digital dapat membantu pelaku usaha memperluas jangkauan pasar dan mempromosikan produk mereka kepada calon konsumen.
Menurutnya, penguatan keterampilan digital menjadi salah satu fokus pengembangan ekonomi kreatif di tengah perubahan pola pemasaran dan perkembangan teknologi.
“Pelatihan yang kami lakukan selama ini pada umumnya berbasis digital. Pekerjaan-pekerjaan kreatif yang berbasis digital ini yang kita perkuat, karena sekarang memang eranya digital,” pungkasnya. (*)




