NTB

Smelter PT AMNT Rampung, Produksi dan Hilirisasi Belum Maksimal?

Mataram (NTBSatu) – Smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), anak perusahaan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN), resmi beroperasi secara penuh.

Sekretaris Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Niken Arumdati menyampaikan, pabrik pemurnian hasil tambang tersebut sebenarnya telah memasuki tahap pengoperasian sejak 2024.

Namun dalam perkembangannya, sempat terdapat kendala teknis yang menyebabkan penghentian sementara beberapa fasilitas pada 2025. Setelah itu, proses peningkatan kapasitas telah diselesaikan pada April 2026.

“Dan sejak akhir Juni 2026, smelter (PT AMNT) sudah mampu mengolah seluruh produksi konsentrat dari tambang,” kata Niken kepada NTBSatu, kemarin.

Smelter yang dibangun dengan nilai investasi sekitar US$1,4 miliar ini, memiliki kapasitas produksi mencapai 900.000 metrik ton konsentrat per tahun. Berasal dari tambang Batu Hijau dan pengembangan tambang Elang ke depan.

Niken menjelaskan, kompleks terintegrasi ini akan memproduksi katoda tembaga berkualitas tinggi, emas, perak, asam sulfat, dan selenium. Dengan potensi menghasilkan sekitar 220.000 ton katoda tembaga per tahun.

Smelter beroperasi penuh, sekaligus menandakan berakhirnya ekspor bahan mentah oleh PT AMNT. Terakhir, PT AMNT memperoleh rekomendasi ekspor konsentrat dengan kuota 480.000 ton kering untuk periode 31 Oktober 2025 sampai 30 April 2026.

Di tengah besarnya investasi dan kapasitas produksi smelter, dampak hilirisasi terhadap perekonomian masyarakat NTB menjadi aspek penting yang perlu diukur.

Menurut Niken, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari besarnya investasi atau volume produksi smelter. Ada beberapa indikator penting, antara lain peningkatan nilai tambah sektor industri pengolahan, kontribusi terhadap perekonomian dan penerimaan daerah, penyerapan tenaga kerja lokal, serta keterlibatan UMKM dan perusahaan lokal dalam rantai pasok industri.

“Kita juga perlu melihat apakah hilirisasi mampu menciptakan kegiatan ekonomi baru di luar sektor pertambangan. Jadi, ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa banyak tembaga yang dimurnikan, tetapi seberapa besar manfaat ekonomi yang tinggal dan berkembang di NTB,” jelas Niken.

Belum Ada Industri Turunan

Niken menjelaskan, salah satu tantangan dalam mengukur keberhasilan hilirisasi adalah memastikan produk hasil pemurnian dapat mendorong tumbuhnya industri lanjutan di daerah.

Hingga saat ini, kata Niken, belum tersedia data terverifikasi mengenai industri manufaktur turunan di NTB yang secara khusus telah menggunakan katoda tembaga hasil pemurnian AMNT sebagai bahan baku utama.

Kondisi tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana produk hasil pemurnian terserap oleh industri lokal dan apakah terdapat peluang pengembangan industri berbasis tembaga di NTB.

“Sejauh informasi yang dapat kami sampaikan, belum ada data terverifikasi mengenai industri manufaktur turunan di NTB yang secara khusus telah menggunakan katoda tembaga hasil pemurnian AMNT sebagai bahan baku utama,” jelas Niken.

Pengembangan industri turunan berpotensi memperpanjang rantai nilai komoditas tambang. Dengan pengolahan lanjutan, nilai ekonomi tidak hanya berasal dari kegiatan penambangan dan pemurnian, tetapi juga dari produksi barang jadi maupun komponen industri.

Berdasarkan informasi awal, industri turunan dari smelter PT AMNT dapat menjadi bahan baku industri elektronik, otomotif, dan konstruksi. Misalnya: Pabrik kabel dan kawat, pabrik lembaran tembaga, termasuk peluang industri pupuk dan bahan kimia.

Smelter Beroperasi, Untungkan Ekonomi NTB

PT AMNT resmi, tidak memperpanjang izin ekspor konsentrat ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kepala Dinas ESDM NTB, Samsudin mengatakan, alasan PT AMNT tidak memperpanjang izin ekspor karena keberadaan Smelter menunjukkan progres signifikan.

Ia menyebut, kondisi Smelter yang sudah beroperasi maksimal, justru memberikan keuntungan bagi ekonomi NTB. Meski sudah tidak ada lagi ekspor konsentrat dalam bentuk mentah.

“Justru kalau Smelter jalan, kita akan berharga bersyukur. Karena, bagaimanapun dari kegiatan Smelter itu kan ekonomi berputar. Karena produk yang dihasilkan bukan hanya barang mentah, tetapi barang jadi dan setengah jadi,” jelasnya.

Hilirisasi Jadi Nilai Tambah Ekonomi NTB

Terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Wahyudin mengatakan, hilirisasi langsung dan perusahaan melakukan ekspor barang jadi akan menjadi nilai tambah bagi ekonomi NTB.

“Karena hasil olahan itu kan memiliki nilai tambah yang lebih besar daripada kita hanya ekspor konsentrat dalam bentuk mentah,” kata Wahyudin.

Ia menegaskan, upaya hilirisasi sektor pertambangan mampu memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar daripada ekspor bahan mentah atau konsentrat.
Pengolahan hasil tambang melalui fasilitas Smelter memungkinkan komoditas seperti tembaga, emas, dan perak tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Kalau itu semua bisa dimanfaatkan, hasil tambang yang ada di NTB bisa diolah semua oleh Smelter. Nilai tambahnya pasti lebih, daripada kita hanya sekedar mengekspor konsentrat,” jelasnya. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait