Perkuat Layanan Air Bersih dan Hilirisasi Komoditas Lokal, BRIDA NTB Matangkan Rekomendasi Riset BRIN
Mataram (NTBSatu) – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi NTB, membahas rekomendasi riset dan kajian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pembahasan itu dalam rapat koordinasi lintas sektor di Aula BRIDA Provinsi NTB, Senin, 12 Oktober 2026.
Pertemuan ini bertujuan menyelaraskan usulan riset dengan kebutuhan pembangunan daerah. Sekaligus, menyiapkan rekomendasi kepada Gubernur NTB sebagai dasar penentuan program prioritas dan perencanaan anggaran.
Hasil pembahasan mengarah pada perlunya kajian pendahuluan yang komprehensif sebelum pemerintah menetapkan program dan pembangunan infrastruktur.
Dalam rapat tersebut, terdapat dua usulan yang menjadi perhatian awal. Di antaranya: kajian potensi air tanah dan sungai bawah tanah di Lombok Selatan. Serta, kajian desalinasi air laut menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).
“Kedua kajian tersebut memiliki estimasi anggaran rencana pendanaan akan kita telaah lebih lanjut untuk menyesuaikan kebutuhan teknis dan proses penganggaran Tahun 2027,” kata Kepala BRIDA Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi.
Ia menjelaskan, rekomendasi riset BRIN mencakup tiga isu strategis. Di antaranya: ketersediaan air bersih, hilirisasi jagung dan kelor, serta pengembangan sektor perikanan. Seluruh usulan perlu dikaji berdasarkan bukti ilmiah agar kebijakan yang diambil tepat sasaran, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada sektor air bersih, ia berharap kajian potensi air tanah dan sungai bawah tanah di Lombok Selatan dapat memberikan data mengenai sumber air, karakteristik, lokasi potensial, serta kemungkinan pemanfaatannya. Hasil penelitian nantinya menjadi salah satu dasar untuk menentukan solusi yang sesuai bagi kebutuhan masyarakat, pertanian, dan kawasan pariwisata.
“Pemerintah juga perlu membandingkan pilihan sumber air permukaan dan teknologi desalinasi dengan mempertimbangkan biaya operasional serta kesiapan pengelolaan jangka panjang,” ujarnya.
Pentingnya Kesiapan Pengelola
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Provinsi NTB, Lalu Kusuma Wijaya, menekankan pentingnya kesiapan pengelola, sumber daya manusia, kepastian lahan, dan pembiayaan pemeliharaan.
“Pembangunan fasilitas air bersih harus berbarengan dengan perencanaan operasional dan pendampingan. Tujuannya, agar layanan dapat terus berjalan setelah pembangunan selesai,” kata Wijaya.
Sementara itu, Dinas Pertanian Provinsi NTB menyoroti potensi hilirisasi jagung dan kelor untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Pengembangan pengeringan pascapanen dan industri pakan berbasis bahan baku lokal perlu dikaji. Tujuannya, agar dapat mendukung peternak, mengurangi kendala biaya pakan, serta memperkuat ketersediaan pangan. Rapat juga membahas penyusunan peta jalan (roadmap) hilirisasi jagung dan kelor hingga 2030 sebagai acuan perencanaan program dan penganggaran tahunan.
Perwakilan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB turut menekankan, penelitian air bawah tanah harus memperhatikan kondisi geologi dan hidrogeologi setempat. Ia beharap, hasil kajian dapat memastikan potensi sumber air berdasarkan data lapangan, bukan hanya mengacu pada kondisi wilayah lain.
Melalui koordinasi lintas sektor ini, Pemerintah Provinsi NTB berupaya memastikan, kerja sama riset menghasilkan dasar kebijakan yang jelas dan dapat pemerintah terapkan. Harapannya, hasil kajian ini membantu pemerintah menentukan prioritas pembangunan berdasarkan kebutuhan masyarakat, potensi daerah, dan kemampuan anggaran. (*)




