Lombok BaratPariwisata

Pendapatan Wisata Buwun Sejati Belum Optimal, Kades Soroti Masalah Manajemen

Lombok Barat (NTBSatu) – Potensi wisata alam Desa Buwun Sejati, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, belum sepenuhnya mampu meningkatkan pendapatan desa.

Kepala Desa Buwun Sejati, Muhidin, mengakui pengelolaan destinasi wisata masih menghadapi persoalan manajemen. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah yang ingin ia benahi.

Menurut Muhidin, pengelolaan wisata selama ini melibatkan sejumlah pihak. Skema tersebut membuat desa belum sepenuhnya menyatukan pengelolaan destinasi dalam satu pintu.

IKLAN

“Kalau dibilang belum optimal, iya juga. Tetapi, tenaga kerja yang terserap juga banyak,” kata Muhidin, Minggu, 4 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, aktivitas wisata memberi peluang ekonomi bagi warga sekitar. Remaja dan ibu-ibu ikut berjualan untuk memperoleh penghasilan tambahan. Namun, manfaat ekonomi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam Pendapatan Asli Desa (PADes).

Pengelolaan Belum Satu Pintu

Muhidin mencontohkan pengelolaan kawasan Bunut Ngengkang yang berkaitan dengan skema kerja sama di bawah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Ia menyebut, perubahan aturan dan tanggung jawab keuangan menjadi pertimbangan dalam rencana pengambil alihan pengelolaan oleh BUMDes.

IKLAN

“Kalau nanti wisata ini sudah berjalan, mungkin BUMDes siap mengambil alih supaya semua pengelolaan wisata berada dalam satu pintu,” ujarnya.

Menurutnya, BUMDes perlu mempertanggungjawabkan arus keuangan sebelum menerima pengelolaan tersebut. Persoalan itu membuat proses pengalihan tidak bisa berjalan begitu saja.

Pengelola perlu memastikan pertanggungjawaban keuangan sebelum mengambil keputusan. Di sisi lain, Muhidin mengakui manajemen yang belum maksimal ikut memengaruhi pendapatan desa.

“Manajemen itu yang paling penting. Kalau manajemennya berjalan, saya kira semuanya akan berubah,” katanya.

Pendapatan Desa dan Penyerapan Tenaga Kerja

Muhidin menyebut, skema kerja sama pengelolaan wisata Aik Nyet membagi pendapatan dengan sejumlah pihak. Ia menjelaskan, skema tersebut mengalokasikan 75 persen untuk BUMDes, 20 persen untuk provinsi, dan 5 persen untuk Kabupaten.

Namun, Muhidin belum menjelaskan secara rinci angka pendapatan bersih yang masuk ke kas desa. Ia hanya menyebut pendapatan pada periode sebelumnya berada di kisaran Rp17 juta hingga Rp24 juta.

Angka tersebut perlu diperjelas berdasarkan periode dan laporan keuangan agar kontribusi wisata terhadap PADes dapat terukur. Sebab, jumlah pengunjung dan aktivitas ekonomi warga belum otomatis menunjukkan besarnya pendapatan yang benar-benar desa terima.

Sebelumnya, destinasi pemandian alami Bunut Ngengkang mengering akibat kemarau panjang. Muhidin menyebut kondisi tersebut sebagai fenomena musiman yang berulang.

“Kalau sudah musim kering, ya kering sudah. Karena memang sudah sejak dulu seperti itu,” kata Muhidin dalam wawancara sebelumnya.

Ia menjelaskan, Bunut Ngengkang mengandalkan aliran air bawah tanah. Sumber air tersebut tidak memiliki aliran permukaan seperti sungai pada umumnya.

Di kawasan Aik Nyet, air masih mengalir meski debitnya menurun. Kondisi itu menunjukkan pengembangan wisata alam perlu memperhitungkan ketergantungan terhadap musim. Pengelola juga perlu menyiapkan fasilitas dan aktivitas alternatif saat destinasi utama tidak dapat beroperasi optimal.

Muhidin mengatakan, pembenahan fasilitas dan dukungan pengelolaan masih berjalan, meski belum maksimal. (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait