Jejak AMMAN di Sembalun, Lebih dari Sekadar Pemberdayaan
Dari kopi lereng Rinjani hingga black garlic, komoditas lokal Sembalun, semakin menemukan jalannya menuju pasar. Melalui Program GUMI SERI, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) mendampingi pelaku UMKM mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Oleh: Khazani Darunnafis
Bawang itu awalnya gosong. Kulit dalam dan luarnya kering. Barangkali karena suhu dan lama pembakarannya kurang dari 30 hari, sehingga antioksidannya malah tak keluar dan rusak. Syae’un (49 Tahun) masih mengingat percobaan pertama membuat black garlic di rumahnya, Desa Sembalun Bumbung.
Ia mendapatkan pengetahuan pengolahan bawang putih difermentasi jadi asam manis itu dari warga Jepang yang pernah datang ke Sembalun.
“Dulu karena tidak nanya suhunya berapa ya gosong, bawangnya keras. Padahal kan harusnya suhunya 50 derajat celcius dengan waktu 30 hari,” kenang Syae’un kepada NTBSatu Sabtu, 1 Agustus 2026.
Namun, cerita Syae’un sebenarnya tak berhenti pada bawang. Di balik produk tersebut terdapat perjalanan panjang pemberdayaan masyarakat.
Perjalanan itu berawal dari persoalan yang jauh lebih besar. Sembalun yang merupakan wilayah destinasi wisata dan pertanian, rentan ancaman bencana. Banjir bandang dapat merusak lahan pertanian warga. Material longsor juga dapat menimbun lahan milik petani. Kerusakan jembatan pernah membuat akses distribusi ikut terganggu.
“Ketika orang mau pergi ke sini tidak bisa. Begitu juga dengan kami, jual keluar juga nggak bisa lewat,” ujar Syae’un.
Kondisi tersebut membuat Syae’un melihat kebutuhan lain di tengah masyarakat. Ia tidak hanya ingin membantu warga bertahan setelah bencana. Ia ingin mendorong masyarakat memiliki sumber penghasilan yang lebih kuat.
Perempuan menjadi kelompok yang kemudian banyak ia dorong. Menurut Syae’un, perempuan memiliki peran besar dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, sebagian perempuan masih menghadapi hambatan ketika ingin bergerak keluar rumah.
“Saya tetap keluar. Pokoknya kaum saya harus maju,” katanya.
Dari proses tersebut, kelompok-kelompok perempuan mulai terbentuk. Syae’un kemudian membina puluhan kelompok masyarakat. Ia menyebut jumlah kelompok yang ia bina kini mencapai 42 kelompok.
Setiap kelompok mengembangkan produk yang berbeda. Ada kopi, buncis, beras merah, sambal, hingga olahan stroberi. Ada pula dodol stroberi dan dodol wortel. Sementara Syae’un memilih fokus pada black garlic.
AMMAN Melihat Potensi
Perjalanan pemberdayaan tersebut kemudian bertemu dengan program pendampingan PT Amman Mineral Nusa Tenggara. AMMAN menjalankan Program GUMI SERI di Lombok Timur. Program tersebut menyasar pelaku usaha dalam rantai nilai pariwisata dan ekonomi kreatif lokal.
Pada fase awal, AMMAN mendampingi 40 UMKM mitra terbaik. Sebanyak 20 UMKM berasal dari Sembalun. Sebanyak 20 UMKM lainnya berasal dari Kecamatan Jerowaru.
AMMAN memberikan pelatihan kewirausahaan kepada pelaku UMKM. Program juga menyentuh pengembangan produk, branding, dan kemasan. Pemasaran serta akses pasar juga menjadi bagian dari pendampingan. Para pelaku UMKM juga mendapat penguatan jejaring dengan pemangku kepentingan lokal.
Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN, menjelaskan tujuan program tersebut sebagai upaya mewujudkan UMKM yang punya kapasitas dan mandiri secara ekonomi.
“Tujuan utama program ini adalah mendukung kemandirian ekonomi masyarakat melalui peningkatan kapasitas pelaku UMKM,” kata Aji kepada NTBSatu melalui keterangan resminya, Selasa, 11 Agustus 2026.
AMMAN memilih Lombok Timur bukan tanpa alasan. Menurut Aji, wilayah tersebut memiliki potensi pariwisata berbasis komunitas. Namun, pelaku usaha masih membutuhkan penguatan kapasitas. Mereka juga membutuhkan akses pasar dan jejaring bisnis.
“Kami ingin mendorong agar potensi lokal dapat berkembang menjadi sumber ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Pendekatan tersebut kemudian pelaku UMKM langsung rasakan. Syae’un menjadi salah satunya. Ia mengaku kelompoknya masih memiliki keterbatasan sumber daya manusia. Keterbatasan tersebut terutama terlihat pada teknologi informasi dan pemasaran. Pengelolaan keuangan juga menjadi persoalan. Sebelum mengikuti pendampingan, uang usaha dan uang pribadi belum tertata dengan baik.
“Dengan adanya AMMAN, kami bisa membedakan uang sendiri dan uang perusahaan,” kata Syae’un.
Bagi pelaku usaha kecil, perubahan tersebut memiliki arti penting. Pemisahan keuangan membuat pelaku usaha mulai memahami kondisi bisnisnya. Mereka dapat melihat uang yang benar-benar berasal dari kegiatan usaha. Mereka juga dapat mengetahui kebutuhan operasional secara lebih jelas.
Bukan Sekadar Pelatihan
Pendampingan AMMAN tidak berlangsung dalam satu pertemuan. Program tersebut berjalan melalui beberapa tahapan. Syae’un menyebut proses pembinaan berlangsung 12 bulan. Pelaku UMKM mendapatkan materi bisnis secara bertahap. Materinya mencakup pemasaran, perencanaan bisnis, hingga keuangan.

Andi Suhasdi (30 Tahun) merasakan langsung proses tersebut. Pemuda Desa Sajang itu mengembangkan UMKM Sajang Coffee. Ia mengolah kopi Arabika dan Robusta dari lereng Gunung Rinjani.
Sebelumnya, sebagian hasil kopi warga dijual dalam bentuk green bean. Andi kemudian meningkatkan nilai jualnya melalui pengolahan dan kemasan. Kini produknya tersedia dalam bentuk roast bean dan bubuk.
Ia juga mengembangkan beberapa proses pengolahan Arabika. Di antaranya natural, honey, dan wine process. Kopi tersebut kemudian Andi pasarkan kepada konsumen dan wisatawan.
Andi mengatakan pendampingan AMMAN memberikan pengetahuan praktis. Ia mempelajari perhitungan harga pokok produksi atau HPP. Ia juga belajar membuat Business Model Canvas atau BMC.
“Salah satunya menghitung HPP. Terus membuat BMC dalam sebuah bisnis. Itu kita diajarin,” ujar Andi kepada NTBSatu ketika ditanya mengenai peran AMMAN dalam usahanya, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Andi juga merasakan perbedaan metode pendampingan. Pelatihan tidak berhenti pada teori. Pelaku UMKM langsung mentor ajak untuk membahas kondisi usaha mereka.
“Metodenya benar-benar langsung ditanyakan,” ujarnya.
AMMAN juga memberikan dukungan akomodasi dan transportasi selama kegiatan. Andi menyebut konsumsi peserta selama kegiatan turut ditanggung. Dukungan tersebut membuat peserta dapat mengikuti pelatihan secara lebih fokus.
Dari Ruang Pelatihan ke Pasar
Pemberdayaan tidak berhenti ketika peserta meninggalkan ruang pelatihan. AMMAN juga membuka ruang promosi bagi produk UMKM. Para pelaku usaha mendapat kesempatan mengikuti kegiatan pameran.
Syaeun menyebut AMMAN beberapa kali memfasilitasi keikutsertaan pelaku UMKM. Dukungan tersebut mencakup kebutuhan perjalanan ketika kegiatan berlangsung di luar daerah.
“Kalau ada event-event besar, itu kami tidak berbayar. Semua difasilitasi,” kata Syae’un.
Bagi pelaku UMKM, kesempatan seperti itu membuka akses menuju pasar baru. Produk yang sebelumnya hanya beredar di Sembalun dapat mereka perkenalkan ke wilayah lain. Jejaring dengan pelaku usaha lain juga semakin terbuka.
Andi mengalami hal serupa. Ia pernah membawa produknya dalam kegiatan pameran di Taman Selong. Pameran tersebut menjadi kesempatan memperkenalkan produk kepada konsumen. Ia juga mendapatkan relasi baru dari sesama peserta program.
“Ada teman-teman yang juga pada waktu itu ikut pelatihan sama kita. Dapat relasi, ada peningkatan jadinya juga,” ujarnya.
Mengubah Cara Melihat Bisnis
Bagi Andi, manfaat terbesar program justru terletak pada perubahan cara berpikir. Pelaku UMKM tidak lagi hanya memikirkan bagaimana produk dibuat. Mereka mulai memikirkan siapa konsumennya. Mereka juga harus menentukan keunggulan produk. Perencanaan usaha kemudian menjadi lebih terarah.
“Biasanya kan pemateri hanya mengajarkan media sosial, posting begini. Kalau ini kita memang diajarin, terutama BMC-nya,” kata Andi.

Perubahan tersebut menjadi salah satu tujuan utama program. Aji mengatakan pendampingan memang Amman rancang untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Program tidak hanya memberikan pengetahuan bisnis. AMMAN juga mendampingi pengembangan produk dan branding. Akses pasar dan jejaring bisnis turut diperkuat.
“Pendampingan tidak hanya berupa pemberian materi bisnis, tetapi juga mencakup pelatihan kewirausahaan, pengembangan produk, penguatan branding dan kemasan, pemasaran, serta pendampingan akses pasar,” ujar Aji.
Prosesnya dimulai dengan identifikasi kebutuhan UMKM. Program kemudian berlanjut melalui Training of Trainers. Setelah itu, pelaku usaha mengikuti Training of Entrepreneurs. Pendampingan pascapelatihan menjadi bagian dari proses berikutnya. AMMAN juga menghadirkan expo sebagai ruang promosi. Dengan pola tersebut, pelaku usaha tidak hanya menerima materi. Mereka juga mendapat kesempatan menguji pengetahuan melalui praktik.
Tidak Berhenti pada Bantuan
AMMAN sendiri menempatkan keberlanjutan sebagai bagian penting dari program. Aji mengatakan program tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
AMMAN terus melihat peluang keberlanjutan berdasarkan hasil evaluasi. Kebutuhan masyarakat menjadi salah satu pertimbangan utama. Kolaborasi dengan pemerintah daerah juga menjadi bagian dari pertimbangan.
“Komitmen kami adalah agar pendampingan yang telah dilakukan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat terus mendorong UMKM menjadi lebih mandiri, berdaya saing,” kata Aji.
Namun, keberlanjutan tetap menghadirkan tantangan. Pelaku UMKM harus mampu menerapkan pengetahuan secara mandiri. Mereka juga harus mempertahankan kualitas produk.
Akses pasar harus terus dibangun setelah program berakhir. Karena itu, hasil pemberdayaan tidak bisa hanya diukur melalui jumlah peserta. Perubahan kemampuan pelaku usaha menjadi ukuran yang lebih penting.
Syae’un sendiri melihat pengetahuan sebagai modal utama. Ia pernah mengikuti berbagai kegiatan pembinaan sebelum mendapat pendampingan. Pengalaman tersebut membuatnya memahami pentingnya ilmu bagi pelaku UMKM.
“Kalau saya, ada transport atau tidak, bukan kita tidak memerlukan itu. Tetapi yang paling saya perlukan adalah ilmunya,” ujar Syae’un.
Pernyataan itu menjadi gambaran sederhana tentang makna pemberdayaan. Bantuan dapat habis ketika program berakhir. Namun, pengetahuan dapat terus digunakan untuk mengembangkan usaha.
Jejak yang Belum Selesai

Sembalun memiliki banyak cerita tentang usaha kecil. Ada petani yang menjual kopi. Perempuan yang mengolah hasil pertanian. Ada pula pelaku usaha yang mencoba membawa produk lokal menuju pasar lebih luas.
AMMAN hadir dalam salah satu bagian perjalanan tersebut. Program GUMI SERI mempertemukan pendampingan dengan potensi ekonomi lokal. Pelaku UMKM mendapat pengetahuan tentang bisnis dan pemasaran.
Mereka juga mendapatkan kesempatan memperluas jejaring. Sebagian memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk melalui pameran. Namun, perjalanan tidak selesai setelah program berakhir.
Mereka akan menghadapi perubahan pasar dan persaingan. Mereka juga harus menjaga kualitas produk lokal. Di situlah makna pemberdayaan sebenarnya diuji.
Program yang baik bukan hanya menghasilkan peserta pelatihan. Program tersebut harus meninggalkan kemampuan yang terus masyarakat gunakan.
Di Sembalun, jejak itu mulai terlihat. Dari bawang yang pernah gosong, lahir black garlic bernilai jual. Dari kopi lereng Rinjani, lahir produk siap konsumsi bagi wisatawan. Dan dari proses pendampingan, muncul cara baru melihat usaha.
“Kami ingin agar potensi lokal dapat berkembang menjadi sumber ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” kata Aji.
Kalimat itu kini menghadapi ujian di lapangan. Sebab, jejak pemberdayaan tidak ditentukan ketika pelatihan selesai. Jejak itu ditentukan oleh kemampuan masyarakat meneruskan langkahnya. Di Sembalun, langkah tersebut masih berjalan. Karena bukan sekadar pemberdayaan, tapi pembelajaran yang mengubah pola pikir. (*)




