NTB

Komunitas Kreator Konten NTB Minimalkan Konten Negatif Lewat Narasi Positif

Mataram (NTBSatu) – Komunitas kreator konten di Nusa Tenggara Barat (NTB) memperketat pengawasan etika produksi konten digital. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi penyebaran materi yang berbau Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA), pornografi, serta ujaran kebencian.

Langkah ini sebagai respons atas maraknya unggahan mengejar popularitas yang mengabaikan norma sosial dan etika publik. Upaya penegakan etika tersebut merangkul sedikitnya 127 kreator konten di wilayah NTB ke dalam wadah komunikasi digital.

Melalui saluran tersebut, para anggota saling mengingatkan serta mengawasi konten-konten yang beredar sebelum maupun sesudah tayang di media sosial. Hal ini sesuai penjelasan dari ketua Komunitas Kreator Konten NTB, Indra Budiman alias Indra Sasak.

IKLAN

​”Tujuan utama dan yang pertama kita membangun komunitas ini adalah untuk membasmi. Kalau enggak bisa membasmi ya meminimalisir konten-konten SARA,” ujarnya kepada NTBSatu pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Aturan Internal Komunitas

Untuk menjaga kualitas informasi dan tontonan di ruang digital, komunitas menetapkan aturan internal (AD/ART) secara independen. Terdapat tiga aturan utama sebagai syarat wajib seluruh anggota.

Pertama, larangan memproduksi konten SARA atau ujaran kebencian. Kedua, larangan terlibat dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Ketiga, larangan mengunggah materi yang mengumbar aib maupun konten vulgar.

IKLAN

​Meskipun demikian, Indra Sasak tidak membatasi ruang kreasi para pembuat konten yang mengusung tema atau isu sensitif tertentu. Namun jika masih sepanjang materi tersebut berbasis data serta fakta yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

​”Selama itu bisa dipertanggungjawabkan tentang informasi yang disampaikan ke publik, ya sah-sah saja,” tuturnya.

Strategi Tandingan Konten Negatif

Menghadapi unggahan bermuatan negatif atau merusak citra daerah yang telanjur tular (viral), komunitas menerapkan strategi counter atau konten tandingan secara kolektif. Metode ini memproduksi serta menyebarkan narasi-narasi positif secara masif untuk meredam dampak negatif konten terkait.

​”Kalaupun tidak bisa kita ingatkan, maka yang kita lakukan adalah mari counter balik dengan konten positif kita, dengan narasi kita. Supaya nanti konten-konten yang jelek tersebut bisa tenggelam,” tambahnya.

​Sebagai langkah pembinaan berkelanjutan, komunitas juga merencanakan penganugerahan Content Creator Awards bagi para pembuat konten di NTB pada Desember mendatang. Ajang penghargaan tersebut mencakup berbagai kategori, mulai dari edukasi, hiburan, fashion, hingga food vlogger.

Acara ini bertujuan untuk mengarahkan para kreator menyajikan karya yang bermanfaat tanpa harus mengorbankan etika publik. (*)

Artikel Terkait