Lombok TengahPemerintahan

Puluhan Siswa di Lombok Tengah Diduga Keracunan MBG, Dinas KesehatanTunggu Hasil Uji Laboratorium

Lombok Tengah (NTBSatu) – Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami 22 penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Bujak.

Hingga kini, Dinas Kesehatan belum menyimpulkan kejadian tersebut sebagai keracunan makanan. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram masih memeriksa sampel makanan yang berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Lalu Putrawangsa, menjelaskan laporan pertama masuk pada Selasa, 4 Agustus 2026 malam. Tim surveilans Dinas Kesehatan bersama Puskesmas kemudian bergerak ke lokasi pada Rabu pagi untuk melakukan penyelidikan epidemiologi.

IKLAN

“Tim menemukan beberapa penerima manfaat masih mengalami keluhan, bahkan satu orang masih menjalani perawatan dengan infus,” katanya kepada NTBSatu, Kamis 6 Agustus 2026.

Soroti Rentang Waktu Konsumsi

Selain melakukan penyelidikan, tim juga langsung mengamankan sampel makanan dari dapur SPPG. Tim kemudian mengirim sampel tersebut ke BBPOM Mataram untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Putrawangsa menegaskan, hasil laboratorium menjadi dasar untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.

“Kita tidak bisa langsung menjustifikasi. Yang memastikan nanti hasil pemeriksaan laboratorium, apakah memang karena makanan atau ada faktor lain,” ujarnya.

Hasil penyelidikan sementara menunjukkan adanya jeda waktu yang cukup panjang antara proses distribusi dan waktu konsumsi makanan. Paket MBG untuk kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3) didistribusikan pada siang hari, tetapi sebagian penerima manfaat baru mengonsumsinya sekitar pukul 17.00 hingga 20.00 Wita.

“Artinya ada rentang waktu yang menjadi perhatian. Namun kepastiannya tetap menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan,” jelasnya.

Gejala Beragam, Perkuat Pembinaan

Tim kesehatan mencatat sebagian penerima manfaat mengalami mual, muntah, pusing, dan demam. Namun, tim belum mewawancarai seluruh penerima manfaat karena beberapa orang tidak berada di rumah saat investigasi berlangsung.

Putrawangsa mengatakan Dinas Kesehatan telah melatih penjamah makanan, melakukan inspeksi kesehatan lingkungan (IKL), dan memastikan setiap dapur MBG memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebelum beroperasi.

Ke depan, Dinas Kesehatan akan memperkuat pembinaan dan evaluasi terhadap seluruh dapur MBG melalui 30 puskesmas di Lombok Tengah. Petugas akan terus memantau penerapan standar keamanan pangan di setiap dapur.

Putrawangsa mengimbau seluruh pengelola dapur MBG agar menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara konsisten, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan.

Menurutnya, makanan siap saji seharusnya didistribusikan dan dikonsumsi dalam waktu maksimal empat jam setelah proses pengolahan. Ia juga meminta pengelola dapur juga segera berkoordinasi dengan puskesmas maupun Dinas Kesehatan apabila menemukan kendala selama pelaksanaan program.(*)

Artikel Terkait