Enggan Dievakuasi ke KBRI, Dua PMI asal Lombok Korban Dugaan Eksploitasi Hilang Jejak
Mataram (NTBSatu) – Dua Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Lombok, yang menjadi korban dugaan eksploitasi seksual dikabarkan hilang jejak.
Meski sempat berada di sebuah warung Indonesia. Kedua korban justru dilaporkan enggan dievakuasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan memilih pergi secara mandiri.
Seorang saksi mata bernama Dani yang sempat membantu PMI asal Lombok tersebut mengatakan, jika keduanya memilih pergi setelah ditawarkan ke KBRI.
“Padahal kalau nurut sama saya waktu itu mau dibantu untuk ke KBRI. Eh malah pergi lagi tidak tahu ke mana,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 29 April 2026.
Informasi mengenai keberadaan kedua korban pertama kali melalui unggahan video yang menunjukkan, kondisi mereka sesaat setelah berhasil melarikan diri dari tempat penampungan.
Saksi mata menceritakan, pertemuan tersebut berlangsung sekitar dua atau tiga bulan yang lalu dan terjadi secara tidak sengaja di sebuah warung Indonesia.
Saat itu, kedua wanita tersebut ditemukan dalam keadaan memprihatinkan. Sekaligus terlihat menangis dan trauma, setelah mengaku menjadi korban dugaan eksploitasi seksual.
Dani sempat memberikan bantuan berupa makanan dan tempat beristirahat, namun tawaran tersebut bersifat sementara karena saksi harus kembali bekerja.
Saat saksi kembali memeriksa, kedua PMI tersebut sudah meninggalkan lokasi dengan alasan ingin menemui kerabat atau kenalan di negara tersebut.
Dani menjelaskan, jika kendala utama dalam menangani kasus ini adalah kecenderungan PMI yang menghindari jalur formal, meski dalam keadaan terdesak.
Bahkan saat ditawarkan pendampingan menuju KBRI untuk mendapat perlindungan hukum dan keamanan, kedua korban justru memilih jalur informal dan menghubungi pihak luar yang mereka kenal.
Menurut Dani, peristiwa seperti ini seringkali menyulitkan proses evakuasi resmi. Sebab, sekali mereka berpindah tangan ke pihak ketiga yang tidak terverifikasi, sehingga otoritas setempat kehilangan kontrol atas keselamatan mereka.
Dani menambahkan, jika kedua PMI tersebut tidak bisa dicegah saat mereka memutuskan untuk mengikuti orang yang bisa membantu secara langsung.
Pemerintah Lakukan Pencarian
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB, Aidy Furqan menyatakan, sudah bergerak untuk melacak identitas dan keberadaan kedua warga Lombok Tersebut.
Namun hingga saat ini, belum ada kemajuan berarti dalam pencarian sekaligus pelacakan jejak mereka di lapangan. “Kami juga sudah melacak dan sampai sekarang belum dapat info lagi,” katanya kepada NTBSatu, Rabu, 29 April 2026.
Kurangnya data primer, seperti paspor atau identitas lain menyulitkan koordinasi antara pemerintah daerah dan perwakilan RI di luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat yang hilang kontak dengan keluarga di luar negeri, untuk segera melapor agar identifikasi bisa segera dilakukan. (Inda)



