Korban Terseret Air Terjun Tiu Bombong Ditemukan Meninggal Dunia
Lombok Utara (NTBSatu) – Rozi Herliawan (25) korban hilang terseret arus Air Terjun Tiu Bombong, Desa Pendua, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, berhasil ditemukan, pada Selasa, 21 April 2026. Dalam upaya pencarian hari kedua, tim SAR gabungan berhasil menemukan korban dalam keadaan meninggal dunia.
Koordinator Unit Siaga SAR Bangsal, I Gusti Komang Aryadana, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan, saat ini sedang melakukan proses identifikasi oleh pihak kepolisian.
“Usai penemuan tersebut, Tim SAR segera melakukan proses pengamanan dan packing (pembungkusan, red) jenazah yang didahului proses identifikasi dari pihak kepolisian,” katanya, Selasa, 21 April 2026.
Operasi pencarian hari kedua mulai pukul 06.00 Wita dan korban terlihat mengabang oleh warga sekitar pukul 06.30 Wita. Titik penemuan berada tidak jauh dari lokasi awal korban terseret arus.
Kronologi Kejadian
Peristiwa bermula pada Senin siang, 20 April 2026, saat Rozi bersama dua rekannya sedang bermain air di sekitar air terjun tersebut. Karena kondisi cuaca yang tidak menentu, memicu peningkatan debit air secara tiba-tiba dari hulu sungai hingga membuat korban tidak sempat menepi.
Sedangkan dua rekan yang bersama korban berhasil selamat. Namun, arus deras membawa tubuh korban terseret ke aliran sungai yang lebih dalam.
Keberhasilan penemuan korban merupakan hasil kerja sama dari berbagai unsur. Mulai dari Tim Rescue Kantor SAR Mataram, Unit Siaga SAR Bangsal, TNI/Polri melalui Polsek Kayangan dan Koramil Gangga, hingga petugas Damkar.
Operasi ini juga melibatkan berbagai kelompok relawan, seperti Barasiaga, GPA Santong, Rimba Raya Bentek, dan PMI Gangga. Dukungan warga juga sangat berarti dalam penemuan korban.
Kendala Medan Ekstrem
Meski penemuan korban relatif cepat, namun proses evakuasi membutuhkan waktu yang cukup lama karena kondisi geografis lokasi kejadian. Medan pada area sekitar Air Terjun Tiu Bombong, memang memiliki tingkat kecuraman yang ekstrem dengan akses darat yang cukup terbatas.
Setelah melakukan identifikasi awal, tim gabungan masih membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mempersiapkan pengangkatan jenazah secara manual, yang baru rampung pada pukul 09.00 Wita.
Tantangan berlanjut saat menandu jenazah melalui jalur yang terjal dan curam. Perjalanan menuju titik penjemputan ambulans membutuhkan waktu 50 menit.
Jenazah baru berhasil sampai ke ambulans desa pada pukul 09.50 Wita dan selanjutnya menuju Puskesmas Santong, untuk pemeriksaan medis akhir.
Setelah itu, pihaknya akan menyerahkan jenazah kepada pihak keluarga dan menandai berakhirnya operasi SAR ini. “Setelah dilakukan pemeriksaan medis, jenazah segera diserahkan kepada pihak keluarga di rumah duka,” tutupnya. (Inda)



