Anak Petani asal Bima Usia 15 Tahun Lulus Kuliah di Unesa Tanpa Akselerasi
Mataram (NTBSatu) – Pelajar asal Bima, NTB bernama Kasiati mencuri perhatian publik setelah berhasil menembus bangku kuliah pada usia 15 tahun.
Perjalanan hidupnya menghadirkan kisah mengharukan sekaligus inspiratif, karena berawal dari aktivitas sederhana saat menemani orang tua bekerja di sawah. Siapa sangka, rutinitas tersebut justru menjadi titik awal kemampuan akademiknya berkembang.
Kasiati resmi lolos pada Program Studi S-1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Pencapaian ini menjadikannya sebagai salah satu mahasiswa termuda, meski tanpa jalur percepatan.
Umumnya, mahasiswa usia sangat muda lahir dari program akselerasi. Namun, Kasiati menempuh jalur berbeda. Ia menjalani pendidikan secara reguler sejak awal tanpa lompatan kelas.
Belajar di Sawah dan Tak Akselerasi
Kasiati mulai mengenal huruf dan angka saat membantu orang tuanya di sawah. Bimbingan sederhana dari orang tua membentuk kebiasaan belajar mandiri.
Kemampuan membaca muncul sejak usia 4,5 tahun hingga akhirnya ia langsung melanjutkan pendidikan ke sekolah dasar, tanpa melalui PAUD maupun taman kanak-kanak.
Ketekunan menjadi kunci utama dalam perjalanan akademiknya. Ia konsisten merangkum materi serta rutin mengerjakan latihan soal untuk memperkuat pemahaman.
“Bagi saya, yang terpenting adalah konsistensi belajar. Saya terbiasa merangkum materi dan banyak mengerjakan latihan soal untuk menjaga pemahaman,” ujar Kasiati, melansir laman resmi Unesa pada Senin, 13 April 2026.
Prestasi juga turut mengiringi langkahnya. Pada 2025, ia meraih juara pertama Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi NTB. Capaian tersebut memperkuat posisinya saat mengikuti seleksi SNBP.
Kasiati memilih Program Studi Pendidikan Luar Biasa sebagai bentuk panggilan hati. Ia ingin fokus membantu serta mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus melalui jalur pendidikan.
“Saya ingin belajar di bidang yang saya yakini bisa memberikan manfaat nyata. Keputusan memilih PLB ini murni keinginan saya sendiri sejak awal,” ungkapnya.
Perjalanan menuju perguruan tinggi tidak selalu berjalan mulus. Kasiati sempat merasakan minder serta kegelisahan, terutama saat menunggu hasil seleksi. Kondisi semakin berat setelah kepergian sang ibu. Sosok ayah kemudian menjadi sumber kekuatan yang terus mendorongnya agar tetap tegar menghadapi berbagai tantangan.
Kasiati memandang kelulusan ini sebagai hasil proses panjang, bukan faktor usia semata. Ia menekankan pentingnya strategi sejak awal, terutama melalui optimalisasi nilai rapor serta penguatan sertifikat pendukung secara realistis. Prinsip tersebut membawanya melangkah pasti hingga akhirnya berhasil meraih kursi kuliah pada usia muda. (*)



