Pemerintahan

Perawat Meninggal Saat Dinas, RSUD Provinsi NTB Klarifikasi Soal Beban Kerja

Mataram (NTBSatu) – Keluarga besar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB tengah berduka atas meninggalnya salah satu tenaga kesehatan mereka.

Seorang perawat bernama Hafiz Ahsani Kia, kabarnya meninggal dunia saat sedang menjalankan tugas pada Senin, 9 Maret 2026 sekitar pukul 00.00 Wita. Almarhum merupakan staf perawat IGD Terpadu.

IKLAN

Kematiannya menjadi sorotan. Banyak menganggap, kematiannya karena buruknya manajemen rumah sakit. Hal ini diperkuat, karena meninggalnya saat sedang bertugas.

IKLAN

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama RSUD Provinsi NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri, memberikan klarifikasi atas pertanyaan terkait kronologi dan kondisi kerja almarhum.

IKLAN

Ia menegaskan, almarhum bertugas sesuai jadwal kerja yang telah pihak rumah sakit tetapkan. Berdasarkan data internal rumah sakit, almarhum tidak tercatat menjalani jam kerja lembur sebelum kejadian.

“Beban kerja serta jumlah pasien yang almarhum tangani saat itu masih berada dalam batas normal dan sesuai dengan standar rasio tenaga kesehatan yang berlaku,” jelas Fikri, Minggu, 15 Maret 2026.

Ia juga memastikan, manajemen rumah sakin telah mengatur pembagian tugas di unit kerja tempat almarhum bertugas. Hal ini untuk menjaga keseimbangan antara pelayanan kepada pasien dan kondisi kebugaran petugas.

Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) seluruh staf menjadi prioritas utama. Pihak rumah sakit melakukan pemantauan kondisi fisik tenaga kesehatan secara berkala, termasuk melalui tes kebugaran bagi petugas.

“Kami secara rutin melakukan pemantauan kondisi fisik melalui beberapa kegiatan. Di antaranya tes kebugaran petugas guna memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap optimal tanpa mengabaikan hak-hak kesehatan para pegawai,” ungkapnya.

Kronologi Singkat

Fikri menyampaikan, sesaat setelah kejadian, tim medis langsung melakukan upaya pertolongan secara maksimal sesuai dengan prosedur kegawatdaruratan atau code blue. Namun, upaya tersebut tidak dapat menyelamatkan nyawa almarhum.

“Tim medis telah melakukan penanganan sesuai protokol kegawatdaruratan. Namun takdir berkata lain, dan kami harus melepas salah satu pejuang kesehatan terbaik kami,” demikian pernyataan pihak direksi rumah sakit.

Atas kejadian ini, pihak RSUD Provinsi NTB menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya almarhum. Fikri menyebut, kepergian almarhum menjadi kehilangan besar bagi keluarga besar rumah sakit. Sosok almarhum dikenal sebagai tenaga kesehatan yang memiliki integritas tinggi dan dedikasi dalam menjalankan tugasnya.

“Kami kehilangan sosok yang sangat berintegritas. Fokus kami saat ini adalah memberikan dukungan moral kepada keluarga almarhum serta memastikan rekan-rekan sejawat di lingkungan rumah sakit tetap dapat menjalankan tugas dengan tenang,” katanya.

Disinggung mengenai penyebab kematian almarhum, Fikri belum memberikan keterangan. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button