Trump Ingin Ikut Campur Tentukan Pemimpin Baru Iran, Tolak Putra Khamenei
Jakarta (NTBSatu) – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan, Amerika Serikat harus memiliki peran dalam menentukan pemimpin baru Iran. Hal ini setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam wawancara dengan Reuters dan Axios, Trump menegaskan, Washington ingin terlibat dalam proses pemilihan pemimpin baru Iran. Ia juga menolak kemungkinan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei menjadi penerus ayahnya.
“Kami ingin terlibat dalam proses memilih orang yang akan memimpin Iran di masa depan,” ujar Trump dalam wawancara dengan Reuters yang dikutip berbagai media internasional, Jumat, 6 Maret 2026.
Trump menambahkan, Amerika Serikat tidak ingin kembali menghadapi konflik berulang dengan Iran dalam beberapa tahun ke depan. “Kami tidak ingin kembali melakukan ini setiap lima tahun sekali,” katanya.
Dalam wawancara terpisah dengan Axios, Trump secara tegas menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin baru Iran. Ia bahkan menyebut, putra pemimpin tertinggi Iran tersebut sebagai figur yang tidak layak.
“Mereka hanya membuang-buang waktu. Putra Khamenei itu figur ringan,” tutur Trump.
Trump juga menegaskan, ia ingin terlibat langsung dalam proses penunjukan pemimpin baru Iran, seraya membandingkannya dengan situasi politik di Venezuela. “Saya harus terlibat dalam penunjukan itu, seperti yang kami lakukan dengan Delcy Rodríguez di Venezuela,” ujarnya.
Trump menegaskan, ia tidak akan menerima pemimpin baru Iran yang melanjutkan kebijakan keras seperti yang Khamenei jalankan selama ini. “Putra Khamenei tidak dapat diterima bagi saya. Kami ingin seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian bagi Iran,” ujar Trump.
Ia juga membandingkan situasi di Iran dengan peristiwa di Venezuela. Ketika Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan membawanya untuk menghadapi persidangan.
Setelah itu, wakil presiden saat itu, Delcy Rodríguez mengambil alih kekuasaan. Menurut Trump, model serupa dapat menjadi gambaran bagi masa depan Iran dengan munculnya kepemimpinan baru yang ia nilai lebih bersahabat dengan Barat. (*)



