Putra Khamenei Mojtaba Hosseini Dilaporkan Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Jakarta (NTBSatu) – Putra tertua mendiang Ali Khamenei, Mojtaba Hosseini Khamenei dilaporkan terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Ia disebut menggantikan ayahnya yang meninggal dunia akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu.
Laporan tersebut disampaikan media oposisi Iran International yang mengutip sumber pejabat terkait proses suksesi kepemimpinan di Teheran.
Disebutkan, Mojtaba dipilih oleh Majelis Pakar Iran, lembaga yang memiliki kewenangan konstitusional untuk menunjuk dan memberhentikan Pemimpin Tertinggi Iran.
Sumber yang dikutip menyebutkan, proses pemilihan berlangsung alot dan diwarnai berbagai dinamika internal. Bahkan, terdapat dugaan intervensi dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam menentukan arah keputusan lembaga tersebut.
Sementara itu, laporan The New York Times menyebutkan, para ulama senior Iran menggelar pertemuan secara virtual pada Selasa, 3 Maret 2026 untuk membahas kebijakan baru Iran menyusul serangan militer dari AS dan Israel.
Dalam laporan tersebut, Mojtaba disebut dapat diumumkan secara resmi sebagai Pemimpin Tertinggi paling cepat pada Rabu, 4 Maret 2026 pagi waktu setempat. Hingga kini, pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kabar penunjukan tersebut.
Meski disebut sebagai kandidat terdepan, penetapan Mojtaba dinilai belum sepenuhnya pasti. Iran secara historis menolak pola suksesi dinasti sejak Revolusi Islam 1979. Sehingga, jalannya menuju kursi kepemimpinan tertinggi tetap menghadapi tantangan politik dan ideologis.
Profil Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei dikenal sebagai tokoh konservatif dengan kedekatan kuat terhadap militer Iran. Ia kerap disebut memiliki pandangan yang lebih keras dibandingkan ayahnya.
Selama bertahun-tahun, Mojtaba dilaporkan mengelola kantor dan jaringan politik Ayatollah Ali Khamenei. Hubungannya yang erat dengan Garda Revolusi memperkuat persepsi institusi militer tersebut masih memegang peran dominan dalam struktur kekuasaan Iran.
Ia juga tercatat pernah bertugas dalam Perang Iran-Irak pada dekade 1980-an, yang memberinya kredibilitas revolusioner di kalangan elite politik dan militer. Selain itu, Mojtaba menempuh pendidikan teologi di kota suci Qom, memenuhi persyaratan konstitusional terkait latar belakang klerikal bagi seorang Pemimpin Tertinggi.
Dalam serangan gabungan AS dan Israel yang menewaskan ayahnya serta sekitar 40 anggota kepemimpinan rezim, Mojtaba dilaporkan selamat. Namun demikian, ia diperkirakan tetap menjadi salah satu target potensial dalam upaya pembunuhan oleh Israel di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung. (*)



