BREAKING NEWSINTERNASIONAL

Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru

Mataram (NTBSatu) – Iran menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi terbaru, setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Para ulama Iran mengambil keputusan resmi pada Minggu, 8 Maret 2026.

“Mojtaba Khamenei, putra kedua Ayatollah Ali Khamenei yang terbunuh, telah terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, laporan media pemerintah,” tulis Instagram @aljazeeraenglish.

Laporan Al Jazeera menyebut proses penetapan berlangsung cepat karena kondisi negara menghadapi ancaman militer serta tekanan geopolitik yang terus meningkat.

Kini, Mojtaba Khamenei berusia 56 tahun, dan memegang tanggung jawab besar untuk memimpin Iran pada masa krisis yang termasuk paling serius sepanjang hampir 47 tahun perjalanan Republik Islam Iran. Banyak pengamat politik memprediksi masa awal kepemimpinannya akan berlangsung dalam tekanan konflik regional yang terus berkembang.

IKLAN

Sejumlah tokoh penting Iran segera menyampaikan dukungan terhadap kepemimpinan baru tersebut. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersama unsur angkatan bersenjata menyatakan loyalitas kepada Mojtaba Khamenei. Dukungan dari institusi militer kuat tersebut memperlihatkan konsolidasi kekuasaan yang cepat saat negara menghadapi ancaman eksternal.

Mojtaba sama Keras dengan Ayahnya

Sejumlah analis menilai penunjukan Mojtaba Khamenei mencerminkan kuatnya pengaruh faksi garis keras dalam struktur kekuasaan Iran. Situasi tersebut juga memperlihatkan, pemerintah Iran belum menunjukkan keinginan kuat untuk segera mencari kesepakatan politik ketika perang masih berlangsung.

Al Jazeera menggambarkan Mojtaba sebagai tokoh yang selama ini berperan sebagai penjaga akses bagi ayahnya. Media tersebut juga menilai pandangan politiknya selaras dengan sikap tegas yang selama ini melekat pada Ayatollah Ali Khamenei.

“Ia mengadopsi posisi ayahnya terkait AS dan Israel. Jadi kita memperkirakan seorang pemimpin yang konfrontatif. Kita tidak mengharapkan adanya moderasi,” ungkap Al Jazeera di laman resminya pada Senin, 9 Maret 2026.

Peneliti kebijakan publik American University of Beirut, Rami Khouri menilai, keputusan tersebut menunjukkan kelanjutan arah politik Iran. Ia menyebut, langkah tersebut sebagai pesan kuat bagi Amerika Serikat dan Israel.

Sementara itu, Anggota Dewan Ahli, Heidari Alekasir menjelaskan, nasihat mendiang Ali Khamenei menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pemilihan pemimpin baru.

“Bahkan Setan Besar (AS) pun telah menyebut namanya,” ujar ulama senior itu, merujuk pada pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang sebelumnya mengatakan Mojtaba Khamenei akan menjadi pilihan yang, “tidak dapat diterima” baginya untuk memimpin Iran. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button