BMKG Peringatkan Potensi Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Perairan NTB
Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), mengeluarkan peringatan dini terkait potensi peningkatan cuaca ekstrem di wilayah NTB. Prediksinya, kondisi ini akan terjadi dari tanggal 3 hingga 8 Maret 2026.
Potensi cuaca ekstrem yang akan terjadi selama lima hari ke depan menyebabkan terjadi gelombang tinggi di sejumlah perairan NTB.
Kepala Stasiun Meteorologi ZAM, Satria Topan Primadi menjelaskan, pada 3 Maret 2026, potensi gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter berpeluang terjadi di Perairan Selatan Pulau Lombok, Perairan Selatan Pulau Sumbawa, dan Samudra Hindia Selatan NTB. Potensi ini diperkirakan akan berlangsung hingga 5 Maret 2026.
Sementara itu, gelombang kategori 1,25 hingga 2,5 meter juga berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian Selatan, Selat Alas bagian Selatan. Serta, Selat Sape bagian Selatan.
“Kondisi serupa diperkirakan masih berlangsung hingga 5 Maret 2026 dengan sebaran wilayah yang bervariasi. Termasuk, Selat Lombok bagian Utara dan Selatan, Selat Alas, serta Selat Sape,” jelas Satria dalam keterangan resminya, Selasa, 3 Maret 2026.
Selain itu, potensi peningkatan cuaca ekstrem ini juga menyebabkan terjadinya potensi hujan lebat merata di hampir seluruh kabupaten/kota di NTB pada tanggal 3 hingga 5 Maret 2026.
Situasi itu akan terjadi di Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa. Kemudian, Sumbawa Barat, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.
“Sementara pada 6 hingga 8 Maret 2026, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di sebagian besar wilayah tersebut. Terutama Lombok Utara, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima,” ungkapnya.
Faktor Pemicu Cuaca Ekstrem
Satria menyebutkan, peningkatan potensi cuaca ekstrem ini dipicu oleh beberapa faktor. Di antaranya: adanya dua bibit siklon tropis, yakni Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia Selatan Pulau Jawa dan Bibit Siklon Tropis 93S di Samudra Hindia Barat Australia.
Selain itu, aktifnya gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Low Frequency, dan Kelvin turut memperkuat pertumbuhan awan hujan.
“Terpantau pula adanya konvergensi dan belokan angin di sekitar wilayah NTB. Kelembapan udara yang cenderung basah di berbagai lapisan, serta labilitas atmosfer yang kuat. Kondisi ini mendukung pertumbuhan awan konvektif jenis cumulonimbus,” jelasnya.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Seperti banjir, banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, sambaran petir, hingga pohon tumbang.
“Kondisi cuaca dapat berubah sewaktu-waktu. Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana agar tetap siaga, terutama saat terjadi hujan lebat,” ujar Satria.
BMKG juga merekomendasikan pemerintah daerah dan pihak terkait memastikan kesiapan infrastruktur pengendali air, tidak membuang sampah sembarangan. Lalu, melakukan penghijauan, memangkas dahan pohon rapuh, serta memperkuat koordinasi lintas sektor dalam upaya mitigasi bencana. (*)



