BPBD Kota Mataram Petakan Wilayah Rawan Banjir, Kecamatan Ampenan Jadi Atensi Utama
Mataram (NTBSatu) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram meningkatkan status kewaspadaan, menyusul tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah ibu kota belakangan ini.
Berdasarkan hasil pemetaan, sejumlah wilayah di sektor hilir kini menjadi perhatian serius, terutama Kecamatan Ampenan yang dinilai sebagai zona merah rawan genangan dan banjir.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Ahmad Muzakki mengungkapkan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh tim di tingkat kecamatan hingga kelurahan untuk tetap siaga.
Hal ini dilakukan guna mengantisipasi potensi luapan air sungai yang kerap terjadi saat hujan lebat disertai angin kencang.
“Begitu hujan lebat, petir, angin, pasti kita bilang siaga. Jadi teman-teman itu sambil kita mengecek kesiapan kita,” ujar Ahmad Muzakki kepada NTBSatu, Kamis, 26 Februari 2026.
Fokus Wilayah Hilir
Muzakki menjelaskan, wilayah hilir menjadi titik paling rawan karena merupakan tempat pertemuan antara aliran sungai dan air laut. Kecamatan Ampenan, khususnya, mendapatkan pengawasan ketat karena letak geografisnya.
“Terutama daerah hilir, Kecamatan Ampenan yang zona merah. Karena dia harus bertemu aliran sungai itu dengan pantai kan. Kalau air laut sedang pasang, air dari sungai tertahan, itu yang menyebabkan air meluap dan banjir,” jelasnya.
Beberapa wilayah spesifik di Ampenan yang masuk dalam pantauan ketat karena menjadi langganan genangan dan luapan air antara lain: Lingkungan Pesisir, seperti Bintaro, Kampung Melayu, dan Kampung Bugis. Ampenan Selatan, yakni wilayah Penghulu Agung dan Tanjung Karang.
Muzakki melanjutkan, masalah utama di Ampenan bukan hanya karena curah hujan tinggi, melainkan fenomena pertemuan air sungai dan air laut.
“Kecamatan Ampenan itu zona merah karena dia harus bertemu aliran sungai itu dengan pantai. Kalau saat itu air pantai (laut) sedang surut, tidak masalah. Tapi kalau dia pasang, air yang dari sungai ini tertahan. Itu yang menyebabkan meluap akibat pasang,” jelasnya.
Selain Ampenan, beberapa titik langganan genangan di wilayah lain juga terus dalam pantauan. Contohnya, Kecamatan Cakra, wilayah Abian Tubuh dan Sayang-Sayang.
Kecamatan Sandubaya pada kawasan permukiman di Sweta. Wilayah lainnya yang langganan banjir, seperti BTN Sweta, Dasan Cermen, Gedur, Pagutan, hingga Sekarbela turut dalam pengawasan.
Penyebab Genangan dan Drainase
Lebih lanjut, Muzakki mengidentifikasi beberapa faktor yang menyebabkan genangan di wilayah-wilayah tersebut. Selain faktor elevasi (ketinggian) lahan di mana pemukiman warga lebih rendah dibanding saluran air, masalah sampah dan pendangkalan sedimen sungai juga menjadi pemicu utama.
“Ada beberapa faktor, pertama daerah ketinggian. Pemukiman itu lebih rendah dari sungai kecil di situ. Di samping sampah juga, faktor tidak terawatnya sedimen sungai itu, sehingga begitu air besar, (tanggul) pernah jebol juga,” tambahnya. (*)



