Balap Sampan Tradisional Tingkat Nasional di Ampenan Terancam Tak Dapat Dilaksanakan Lagi
Mataram (NTBSatu) – Tradisi balap sampan tradisional berskala nasional yang lahir dari kampung nelayan di Ampenan, Kota Mataram kini berada di ambang kepunahan.
Lingkungan Pondok Prasi, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis nelayan terbesar, terancam kehilangan ruang hidup sekaligus ruang budaya akibat abrasi dan banjir rob yang terus menggerus garis pantai.
Kepala Lingkungan Pondok Prasi, Martana menyebut, wilayahnya dihuni lebih dari 3.000 jiwa dengan sekitar 1.500 kepala keluarga. Mayoritas berprofesi sebagai nelayan.
Martana menjelaskan, hampir 100 persen warganya merupakan nelayan. Jumlah sampan di lingkungan ini bahkan tak lagi tertampung di kampung sendiri.
“Sampan di sini paling banyak. Tidak cukup ditampung di kampung, sampai harus numpang di Karang Panas, Meninting, Aik Genit, sampai Batulayar,” ujarnya kepada NTBSatu pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Kondisi itu semakin rumit ketika abrasi membuat pantai yang tersisa semakin sempit. Garis pantai semakin mendekat ke perumahan warga tanpa ada perlindungan apapun.
Pantauan NTBSatu, depan teras rumah warga juga terlihat pasir pantai yang cukup tinggi, karena terbawa ombak dan banjir rob.
Pondok Prasi Pernah Adakan Balap Rutin
Di balik keterbatasan tersebut, Pondok Prasi pernah mencatatkan prestasi dengan menggelar balap sampan tradisional tingkat nasional. Martana menjelaskan bahwa lomba tersebut diadakan oleh lingkungan Pondok Prasi sendiri.
Event tahunan yang rutin dilaksanakan setiap Agustus ini mengundang peserta dari berbagai daerah, di antaranya dari Lombok Utara, Lombok Selatan, hingga Bali dan Nusa Penida.
“Pesertanya sekitar 70 sampan. Ini lomba layar murni, tanpa mesin. Hadiahnya kulkas, TV, sepeda listrik. Tiga kali kami laksanakan, Alhamdulillah selalu sukses,” jelas Martana sembari mengenang.
Bahkan pada pelaksanaan sebelumnya, kegiatan ini sempat mendapat dukungan pemerintah daerah dan dihadiri pimpinan daerah. Martana menjelaskan, lomba ini telah berlangsung sejak tahun 2023 lalu.
Namun, harapan menggelar lomba keempat tahun ini kian menipis. Abrasi pada awal tahun 2026 kemarin, telah menghabiskan sebagian besar pantai yang biasa digunakan sebagai arena dan tempat sandar sampan.
“Pantainya sudah habis. Kami bingung mau taruh sampan di mana. Kalau tempatnya tidak ada, lomba ini terancam tidak bisa dilaksanakan lagi,” ungkap pria berusia 50-an tahun tersebut.
Sampan-sampan kini terpaksa berjajar hingga ke badan jalan, terang Martana, mengganggu akses warga, dan berpotensi membahayakan jalur darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran.
Martana berharap ada langkah serius dari pemerintah untuk menata ulang kawasan pesisir Pondok Prasi.
“Kami berharap ada penertiban dan penataan perumahan di pinggir pantai, terutama bangunan yang sudah tidak ditempati. Kalau bisa ditata, sampan bisa berjajar rapi dan jalan tidak terganggu,” ujarnya.
Ia menegaskan, penataan bukan semata soal lomba. Tetapi menyangkut keselamatan, ekonomi nelayan, dan keberlanjutan tradisi bahari yang telah mengharumkan nama kampung mereka di tingkat nasional. (Zani)



