Reses di Donggo, Maman: Kita Perlu Dengarkan Suara dari Pegunungan Jauh
Mataram (NTBSatu) – Anggota Komisi III DPRD NTB, Muhammad Aminurlah alias Maman menegaskan, pentingnya mendengarkan langsung aspirasi masyarakat di wilayah pegunungan yang selama ini kerap luput dari perhatian pembangunan.
Hal itu ia sampaikan saat melaksanakan agenda reses di sejumlah desa di Kecamatan Donggo Timur, Kabupaten Bima. Sejak pagi hari, Aminurlah memulai rangkaian kunjungan dengan bersilaturahmi ke wilayah Sumbawa.
Dalam kunjungan tersebut, Maman menyerap berbagai ide dan gagasan masyarakat terkait program pembangunan yang ia nilai prioritas untuk didorong di tingkat provinsi.
“Dari pagi jam sembilan kami mulai silaturahmi. Tentu banyak pikiran dan gagasan yang muncul dari masyarakat tentang pembangunan yang benar-benar dibutuhkan,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 10 Februari 2026.
Reses kemudian berlanjut ke Desa Mpili (Sampili) sekitar pukul 11.00 Wita. Di desa tersebut, masyarakat menyampaikan tiga hingga empat usulan utama. Di antaranya, perbaikan jalan lingkungan dan perbaikan jembatan penghubung antar desa.
Usai dari Mpili, Maman melanjutkan kunjungan ke Desa Kala. Warga desa ini menyoroti kebutuhan pelebaran jalan yang menghubungkan desa mereka dengan kecamatan lain, khususnya jalur penghubung Kecamatan Donggo dan Kecamatan Soromandi.
Sementara itu, di Desa O’o, aspirasi masyarakat terfokus pada kondisi jalan provinsi yang mengalami kerusakan berat dan membutuhkan peningkatan segera. Kondisi infrastruktur yang rusak dinilai menghambat aktivitas ekonomi dan mobilitas warga.
Desa terakhir adalah Doritungga. Sebagai wilayah pegunungan, warga Doritungga banyak mengusulkan program rabanisasi gang, pembangunan tanggul, serta penataan lingkungan untuk mencegah kerusakan akibat kondisi alam.
“Total ada lima desa yang kami kunjungi, yakni Mbawa, Mpili, Kala, O’o, dan Doritungga. Mayoritas aspirasi memang terkait infrastruktur,” ujarnya.
Usahakan Pembangunan Empat Masjid
Namun demikian, Aminurlah menambahkan, aspirasi masyarakat tidak hanya soal jalan dan jembatan. Pembangunan tempat ibadah juga menjadi perhatian utama. Dari lima desa, empat desa mengusulkan pembangunan masjid.
“Masjid juga bagian dari kebutuhan masyarakat. Infrastruktur itu bukan hanya jalan dan irigasi, tapi juga tempat ibadah sebagai pusat kegiatan umat,” kata politisi PAN ini.
Aminurlah berharap, aspirasi yang dihimpun dalam reses ini dapat direalisasikan melalui mekanisme program pemerintah daerah. Melalui Pokok-pokok Pikiran (Pokir) dewan maupun jalur reguler yang disinergikan dengan Musrenbang Provinsi.
Ia juga menyoroti persoalan layanan dan bantuan sosial di wilayah pegunungan, termasuk keluhan terkait jumlah penerima manfaat program MBG yang masih kurang. Di Kecamatan Donggo Timur, jumlah penerima manfaat mencapai sekitar 5.000 hingga 6.000 orang dan ia nilai perlu penambahan.
“Wilayah Donggo Timur dan Doritungga ini berada di kawasan pegunungan. Suara mereka harus benar-benar kita dengarkan, agar pembangunan bisa lebih merata dan adil,” tutupnya. (Zani)



