Judi Online di Kalangan Remaja Mataram Picu Gangguan Mental
Mataram (NTBSatu) – Praktik judi online kini tidak lagi hanya menyasar kalangan dewasa, namun telah merambah remaja di Kota Mataram.
Fenomena ini menjadi perhatian serius Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal tersebut seiring meningkatnya laporan terkait dampak psikologis yang generasi muda di Ibu Kota alami akibat keterpaparan judi online.
Direktur RSJ Mutiara Sukma Provinsi NTB, dr. Hj. Wiwin Nurhasida menjelaskan, kecanduan judi online termasuk dalam kategori kecanduan perilaku yang memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental. Khususnya, pada usia remaja yang masih berada dalam fase perkembangan psikologis.
“Beberapa pasien rawat jalan yang kami tangani memiliki keterkaitan dengan judi online. Namun, mereka umumnya tidak datang dengan keluhan kecanduan judi secara langsung, melainkan akibat lanjutan seperti gangguan kecemasan dan depresi. Kondisi ini juga mulai ditemukan pada usia muda,” ujarnya Selasa, 3 Februari 2026.
Ia menegaskan, keterlibatan remaja dalam judi online berisiko mengganggu fungsi biologis dan psikososial. Ketidakseimbangan hormon otak, perilaku adiktif, stres berkepanjangan, gangguan tidur, hingga isolasi sosial menjadi dampak yang kerap muncul. Dari sisi sosial, kecanduan ini juga berpotensi memicu konflik keluarga, masalah keuangan, serta penurunan prestasi akademik dan produktivitas.
Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) 2025 mencatat, jumlah pemain judi online di Indonesia mencapai 3,1 juta orang.
Sementara itu, laporan Kementerian Komunikasi dan Digital 2022 menunjukkan, 35 persen remaja Indonesia berusia 15–24 tahun telah terlibat judi online. 60 persen di antaranya mengalami dampak serius terhadap kesehatan mental dan stabilitas ekonomi.
Menurut dr. Wiwin, rendahnya kesadaran diri atau tilikan pada pelaku judi online, termasuk remaja, menyebabkan banyak dari mereka tidak menyadari perilaku tersebut telah memasuki tahap adiktif. Tidak sedikit pasien yang akhirnya datang ke layanan kesehatan jiwa justru atas dorongan orang tua atau keluarga, setelah muncul perubahan perilaku dan masalah sosial yang signifikan.



