Daerah NTB

Sapi Lokal Terbatas, Mataram Andalkan Sumbawa untuk Penuhi Kebutuhan Daging

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Kota Mataram mengakui populasi sapi lokal di wilayahnya saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang tinggi. 

Berdasarkan data pendataan terakhir tahun 2025, jumlah populasi sapi di Kota Mataram tercatat hanya sebanyak 1.048 ekor.

Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Lalu Jauhari menilai angka tersebut memang jauh dari kategori ideal untuk mencukupi kebutuhan kota provinsi sebesar Mataram. Keterbatasan lahan menjadi kendala utama bagi para peternak lokal untuk mengembangkan populasi sapi secara signifikan.

“Kalau melihat dari jumlah populasi, tentu sudah tidak sesuai dengan kebutuhan. Kendala kita adalah keterbatasan lahan, tidak mungkin lagi ada penambahan lahan (peternakan) yang luas di perkotaan,” ujar Jauhari, Jumat, 30 Januari 2026.

Untuk menutupi defisit stok tersebut, Kota Mataram sangat bergantung pada pasokan sapi dari luar daerah. Terutama dari Pulau Sumbawa yang menjadi sentra utama. 

Setiap harinya, pihak berwenang mengeluarkan rekomendasi pemasukan sapi dari luar daerah untuk menjaga stabilitas stok di Rumah Potong Hewan (RPH) Majeluk.

“Kebutuhan kita setiap hari dipenuhi dari luar. Paling sedikit ada 15 hingga 20 ekor sapi yang masuk setiap hari dari Pulau Sumbawa ke RPH Majeluk,” tambahnya.

Selain dari Sumbawa, pasokan daging juga didukung oleh pengiriman dari wilayah sekitar seperti Lombok Barat dan Lombok Utara. Kondisi ketergantungan ini wajar bagi daerah perkotaan. Di mana sektor pertanian dan peternakan biasanya memang ditopang oleh daerah penyangga.

Tak hanya sapi hidup, arus masuk bahan asal hewan seperti telur dan daging beku juga terus dipantau melalui surat rekomendasi setiap hari.

Daging Beku: Penyelamat Stok atau Ancaman Harga?

Pada sisi lainnya, daging beku kini menjadi opsi untuk menstabilkan stok. Terutama bagi kebutuhan sektor perhotelan dan restoran yang menjamur di Mataram. 

Meski demikian, pemerintah menegaskan, intervensi daging beku ke pasar tradisional harus dilakukan dengan hati-hati. Tujuannya agar tidak merusak ekosistem harga daging segar lokal.

“Untuk menstabilkan harga, daging beku bisa saja dilempar ke pasar. Namun daging segar tetap harus kita dukung,” ungkap Jauhari.

Meski sempat harga daging sapi melonjak hingga Rp145.000 per kilogram, Dinas Perdagangan Kota Mataram menegaskan kondisi harga di pasar tradisional masih tergolong normal.

Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida menjelaskan, harga tinggi tersebut umumnya bukan karena kelangkaan pasokan. Melainkan karena kualitas dan proses pengolahan daging.

Untuk daging sapi premium, harga bisa mencapai Rp145.000 per kilogram. Karena telah melalui proses pembersihan secara menyeluruh, termasuk pemisahan lemak dan urat. 

Sementara itu, bebalung atau tulang sapi terjual dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp70.000 hingga di atas Rp100.000 per kilogram, tergantung pada banyaknya daging yang masih menempel pada tulang.

Setelah melakukan sidak pada Jumat, 30 Januari 2026, Sri Wahyunida menerangkan, hasil pengecekan di lapangan menunjukkan pedagang di pasar tradisional Kota Mataram masih menjual daging sapi segar di kisaran Rp130.000 hingga Rp135.000 per kilogram.

Dengan demikian, Nida memastikan bahwa isu gejolak harga daging sapi yang terjadi di Pulau Jawa tidak berdampak pada kondisi pasar di daerah. “Iya, tidak ada pengaruh di sini,” tutupnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button