Rekapitulasi Bencana di NTB Januari 2026, Ribuan Warga Terdampak
Mataram (NTBSatu) – Bencana hidrometeorologi mendominasi wilayah NTB sepanjang Januari 2026 dan berdampak luas terhadap masyarakat.
Hujan lebat, angin kencang, abrasi pantai, serta longsor muncul bergantian sejak awal hingga akhir bulan. Data resmi pemerintah daerah mencatat ribuan warga mengalami dampak langsung dari rangkaian peristiwa tersebut.
Mengutip laman resmi Pemerintah Provinsi NTB, Minggu, 25 Januari 2026, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD NTB melaporkan kejadian bencana selama periode 1 hingga 18 Januari 2026. Dalam rentang waktu itu, jumlah warga terdampak mencapai 9.349 jiwa, tersebar di sejumlah kabupaten dan kota pada Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
Jumlah jiwa terdampak dan rumah terdampak, bertambah jika mengacu pada data kejadian yang belum masuk rekapitulasi Pusdalops BPBD NTB. Berdasarkan pemberitaan NTBSatu hingga 23 Januari 2026, total korban jiwa sementara keseluruhan adalah 17.063 jiwa.
Daftar Kejadian Bencana di NTB Sepanjang Januari 2026
Bencana pertama muncul pada 7 Januari 2026. Hujan berintensitas tinggi memicu banjir di Desa Tongo, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat. Air menggenangi 15 rumah dan berdampak terhadap 62 jiwa dari 15 kepala keluarga.
Cuaca ekstrem berlanjut pada 11 Januari 2026. Angin kencang dan hujan deras menerjang Desa Menceh, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur. Peristiwa tersebut merusak 18 rumah dan menyebabkan tiga warga mengalami luka ringan, dengan total dampak terhadap 148 jiwa dari 40 kepala keluarga.
Puncak kejadian terjadi pada 13 Januari 2026. Kabupaten Lombok Tengah menghadapi banjir yang merendam wilayah Sengkol di Kecamatan Pujut, Barejulat di Kecamatan Jonggat, serta kawasan Praya Barat. Bencana ini memengaruhi 812 jiwa dari 213 kepala keluarga serta mengganggu akses jalan lingkungan.
Pada hari yang sama, banjir disertai angin kencang melanda Desa Kekait di Kecamatan Gunungsari dan Desa Meninting di Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat. Genangan air memasuki rumah warga, sementara angin merobohkan sejumlah pohon. Total dampak mencapai 643 jiwa dari 176 kepala keluarga.
Kabupaten Dompu juga menghadapi banjir pada 13 Januari 2026. Air merendam Desa Nowa dan Doropeti di Kecamatan Woja serta Desa Ta’a di Kecamatan Kempo. Sebanyak 889 jiwa dari 241 kepala keluarga terdampak, dengan kerusakan pada permukiman dan area persawahan.
Dampak Berat di Kabupaten Bima
Kabupaten Bima mencatat dampak terberat pada tanggal yang sama. Banjir dan angin kencang melanda Kecamatan Wera, Ambalawi, dan Sape. Peristiwa ini menyebabkan satu warga meninggal dunia serta merusak rumah dan fasilitas umum. Jumlah warga terdampak mencapai 1.214 jiwa dari 318 kepala keluarga.
Angin kencang kembali melanda Kabupaten Lombok Barat pada 20 Januari 2026. Wilayah Kediri, Gerung, dan Gunungsari mengalami pohon tumbang dan kerusakan rumah ringan, dengan dampak terhadap 471 jiwa dari 129 kepala keluarga.
Banjir kembali muncul pada 21 Januari 2026 di Kabupaten Lombok Tengah. Wilayah Bilelando, Pengadang, Darek, Sengkerang, dan Kabul tergenang air, memengaruhi 356 jiwa dari 97 kepala keluarga.
Pada 21–22 Januari 2026, gelombang laut tinggi dan pasang maksimum menyebabkan banjir rob melanda kawasan pesisir Ampenan, Kota Mataram. Gelombang laut menggerus bibir pantai dan merusak talud penahan, sehingga berdampak terhadap 196 jiwa dari 52 kepala keluarga.
Menjelang akhir bulan, hujan lebat memicu banjir dan longsor di Kabupaten Bima pada 22 Januari 2026. Wilayah Wera, Ambalawi, dan Tambora mengalami jalan amblas serta kerusakan rumah warga, dengan total dampak terhadap 703 jiwa dari 184 kepala keluarga.
Pada tanggal yang sama, banjir juga melanda Kecamatan Hu’u dan Pajo di Kabupaten Dompu dan berdampak terhadap 459 jiwa dari 121 kepala keluarga, termasuk genangan pada rumah dan lahan pertanian.
Pada 23 Januari 2026, hujan deras menyebabkan banjir meluas di Kabupaten Sumbawa, terutama di Kecamatan Tarano, Plampang, Empang, dan Buer. Luapan sungai memasuki permukiman dan lahan produktif, menyentuh sekitar 1.587 kepala keluarga atau lebih dari 6.000 jiwa. (*)



