Mengapa Selalu Hujan saat Bau Nyale? Cek Fakta dan Mitosnya
Mataram (NTBSatu) – Ribuan warga Lombok setiap tahunnya tumpah ruah menuju pesisir pantai Selatan, untuk melakukan tradisi Bau Nyale.
Namun, ada satu fenomena yang menjadi pola berulang dan selalu menjadi pertanyaan masyarakat. Mengapa tradisi Bau Nyale selalu turun hujan lebat dan kilat?
Di balik itu, masyarakat setempat percaya dengan alasan spiritual sendiri yang berbeda dengan jawaban dari ilmu pengetahuan. Tergantung, kepercayaannya mengarah ke sisi yang mana.
Isyarat Kedatangan Sang Putri Mandalika
Banyak masyarakat Sasak yang percaya, jika Nyale bukanlah sekadar cacing laut, tetapi jelmaan Putri Mandalika. Seorang putri Lombok yang memiliki paras cantik jelita.
Konon katanya, karena kecantikannya ini membuat pangeran dari berbagai kerajaan memperebutkannya hingga terjadinya perpecahan dan pertumpahan darah.
Mitosnya, hujan yang turun saat malam puncak Bau Nyale merupakan air mata haru Putri Mandalika yang menemui dan menyaksikan rakyatnya.
Selain itu, angin kencang serta gemuruh ombak dipercaya sebagai tanda kedatangan sang putri dalam wujud cacing laut. Selain itu, hujan ini akan mendatangkan kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Penjelasan BMKG
Di samping mitos yang masih masyarakat Sasak percaya kuat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), justru meluruskan pandangan ini dengan penjelasan dari sisi atmosfer.
Fenomena hujan yang selalu terjadi saat tradisi Bau Nyale, bukan kebetulan mistis sesuai kepercayaan masyarakat sekitar. Melainkan murni sebagai siklus iklim tahunan.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Rafa Zafirah Istiqomah menjelaskan, pelaksanaan Bau Nyale biasanya jatuh pada Februari yang bertepatan dengan kalender cuaca ekstrem.
“Secara umum, Februari merupakan puncak musim penghujan di wilayah NTB. Pada Februari, kondisi cuaca umumnya berawan hingga hujan dengan intensitas ringan hingga lebat,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 28 Januari 2026.
Selanjutnya, BMKG juga meluruskan jika kemunculan cacing laut dengan turunnya hujan tidak ada kaitannya secara langsung maupun biologis.
“Hujannya bukan karena Bau Nyale, tapi memang pada periode tersebut merupakan musim penghujan di wilayah kita,” lanjutnya.
Sinergi Alam dan Budaya
Sebagai tambahan informasi, kemunculan Nyale ke permukaan laut dipicu karena siklus bulan dan suhu air laut tertentu. Kejadian ini biasanya muncul pada hari ke-20 bulan ke-10 kalender Sasak.
Sedangkan menurut pandangan ilmiah, Nyale keluar dari liang karang karena kondisi mendung dan hujan yang disertai pasang surut ekstrem.
Kesimpulannya, baik pendapat tradisi maupun ilmiah, hujan menjadi salah satu bumbu terbaik yang tidak bisa dipisahkan dari kemeriahan tradisi Bau Nyale di laut Selatan Lombok. (Inda)



