Dapur MBG di Lombok Timur Tumbuh Subur, UMKM Mengaku Sulit Salurkan Produk
Lombok Timur (NTBSatu) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mencatat pertumbuhan pesat sepanjang 2025. Namun, geliat ratusan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu belum sepenuhnya membuka ruang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Sejumlah UMKM mengaku kesulitan menyalurkan produk ke dapur MBG, meski siap memenuhi standar kualitas dan harga. Di Lombok Timur, jumlah SPPG terdaftar telah menembus 213 unit dalam satu tahun pelaksanaan, melampaui target awal sebanyak 159 unit.
Ironisnya, banyak dapur MBG justru memilih pasokan dari perusahaan besar. Sementara itu, UMKM lokal tertinggal dari rantai distribusi program yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto itu.
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan langsung hambatan tersebut adalah Suhamdi, pemilik Kiara Bakery di Dusun Bilasundung, Desa Paokmotong, Kecamatan Masbagik. Ia menuturkan, produk roti usahanya, mulai dari donat, roti tawar, hingga brownies, sulit menembus pasar MBG, meski kapasitas produksi dan kualitas siap bersaing.
‘’Produksi kami sekitar dua kuintal dalam sehari. Roti tawar kadang masuk ke MBG, tapi tidak tetap. Walaupun sudah menawarkan, sering disuruh urus ke orang dapur,” ujar Suhamdi, Senin, 26 Januari 2026.
Suhamdi menegaskan, pihaknya siap mendukung penuh program MBG dengan menyesuaikan standar gizi dan harga. Saat ini, harga yang ia tawarkan untuk program MBG sekitar Rp2.000 per bungkus.
Ia juga memastikan, kapasitas produksi mampu memenuhi pesanan dalam jumlah besar selama tidak bersifat mendadak. “Berapa pun pesanannya kami siap penuhi jumlah maupun standar kualitas MBG,” tegasnya.
Namun, keterlibatan itu belum merata. Suhamdi mengungkapkan, hanya beberapa dapur MBG yang secara inisiatif membeli produknya.
Bahkan, di Kecamatan Masbagik, wilayah tempat usahanya beroperasi, tak satupun dapur MBG yang menjadi mitra tetap. ‘’Yang ada justru satu dapur dari Pringgasela,’’ katanya.
Tanggapan Koordinator MBG Lombok Timur
Padahal, Kiara Bakery bukan usaha baru. Usaha roti ini dirintis sejak 2018 dengan modal awal satu karung tepung. Meski sempat terpuruk saat pandemi Covid-19, usaha tersebut berhasil bangkit dan kini mempekerjakan 15 karyawan.
Sementara itu, Koordinator MBG Wilayah Lombok Timur, Agamawan mengakui masih minimnya keterlibatan UMKM lokal dalam program MBG. Ia menyebut, pihak SPPG kesulitan menemukan data UMKM yang siap menjadi mitra, sehingga dapur MBG cenderung mengambil pasokan dari perusahaan besar.
“Kami tidak tahu di mana saja pelaku UMKM ini. Karena itu kami meminta Pemkab Lombok Timur mendata UMKM agar bisa dijadikan mitra,” ujar Agamawan.
Di tengah lonjakan jumlah SPPG, pelaku UMKM berharap pemerintah daerah segera melakukan pendataan dan membuka akses kemitraan yang lebih adil, agar tujuan pemberdayaan masyarakat dalam program MBG benar-benar terwujud. (*)



