Pendidikan

TKA SLB di NTB Direncanakan April 2026, Fokus Siswa Tunarungu dan Daksa

Mataram (NTBSatu) – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Provinsi NTB, merencanakan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi Sekolah Luar Biasa (SLB) pada April 2026 mendatang. 

Kebijakan ini mengacu pada edaran dan anjuran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), untuk membuka tes TKA SLB.

Staf Bidang Pendidikan Khusus (PK) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi NTB, Dr. Hj. Eva Sofia Sari, M.Pd., menyampaikan, saat ini pihaknya masih melakukan pendataan. Sekaligus memberikan rekomendasi kepada SLB yang siap melaksanakan tes tersebut.

“Kami masih mendata dan merekomendasikan sekolah dan pelaksanaannya juga tergantung kesiapan masing-masing sekolah. Apakah akan mengikuti atau tidak,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 26 Januari 2026.

Dalam pelaksanaannya, TKA SLB akan memanfaatkan teknologi alat bantu visual guna menciptakan proses asesmen yang lebih imersif dan inklusif bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Terkait fasilitas penunjang, Eva memastikan sebagian besar SLB telah memiliki sarana pendukung. Sebelumnya, Pemerintah Pusat telah menyalurkan bantuan alat pembelajaran berupa panel datar interaktif ke setiap sekolah.

“Itu yang nantinya akan digunakan juga untuk pelaksanaan tes,” jelasnya.

Dari sisi kesiapan teknis, pihaknya menilai penguasaan teknologi informasi di lingkungan SLB sudah cukup memadai. Tingkat kesiapan sekolah dalam mengelola perangkat IT telah berada di atas 70 persen.

Adapun kategori peserta didik yang dapat mengikuti TKA, yakni siswa berkebutuhan khusus dengan dua kondisi, tunarungu dan daksa. Di luar dari dua kategori itu belum disarankan terutama yang keterbatasan kognitif.

“Saat ini kami masih dalam tahap sosialisasi. Bahkan salah satu SLB di Kabupaten Sumbawa sudah lebih dulu melaksanakan kegiatan serupa sebelumnya,” tambahnya.

Eva menegaskan, pelaksanaan TKA di SLB akan tetap memperhatikan prinsip aksesibilitas dan kesiapan satuan pendidikan agar tidak memberatkan peserta didik maupun sekolah.

“Kita optimis, tidak bisa kita ragukan kecakapan berpikir anak berkebutuhan khusus ini, bisa jadi hasilnya akan bagus,” tutupnya. (Alwi)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button