Dirut PLN Menangis Ceritakan Upaya Pemulihan Listrik Sumatra Pascabencana
Jakarta (NTBSatu) – Direktur Utama (Dirut) PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo mengungkapkan pengalaman emosional saat memimpin langsung pemulihan sistem kelistrikan di Sumatra pascabencana banjir dan tanah longsor. Kisah tersebut Darmawan sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Rabu, 21 Januari 2026.
Darmawan menuturkan, tim PLN harus bekerja di lapangan selama berminggu-minggu untuk memulihkan pasokan listrik di tengah kondisi ekstrem dan kerusakan masif di berbagai wilayah terdampak bencana. Situasi tersebut, menurutnya, menjadi pengalaman yang sangat membekas secara emosional.
“Kami ada di lapangan selama berminggu-minggu. Dan pertama kali kami merasakan bahwa kami adalah manusia yang sangat kecil melawan kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa dan alam,” ujar Darmawan dengan suara terbata dan mata berkaca-kaca di hadapan anggota dewan.
Ia menyebut, upaya pemulihan yang tim PLN lakukan telah melampaui batas normal kemampuan manusia. Peristiwa itu sekaligus menjadi titik balik bagi manajemen PLN dalam memandang keandalan sistem kelistrikan nasional.
“Tim kami memberikan yang terbaik di luar batas kemampuan kemanusiaan. Ini adalah perubahan besar bagaimana kami menyikapi keandalan sistem kelistrikan,” katanya.
Evaluasi Sistem Kesiapsiagaan
Darmawan menjelaskan, pascabencana, jajaran direksi dan manajemen PLN langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesiapsiagaan. Menurutnya, PLN tidak lagi bisa mengandalkan pola perencanaan lama dalam menghadapi risiko bencana alam yang semakin kompleks.
“Kami tidak bisa lagi, tidak punya planning of contingency seperti kemarin. Saat ini kami men-tracking di mana adanya siklon dan hurricane,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, PLN kini rutin memantau pergerakan cuaca ekstrem, menyiapkan menara darurat (tower emergency), serta memetakan berbagai skenario terburuk, termasuk kemungkinan robohnya belasan menara transmisi secara bersamaan.
“Worst case (kasus teburuk, red) apabila ada 15 tower yang roboh, kami sudah siap,” kata Darmawan.
Selain itu, PLN juga menyiagakan helikopter dan memperkuat koordinasi dengan TNI, Polri, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Langkah ini dilakukan agar personel dan peralatan dapat segera dikerahkan dalam waktu singkat apabila terjadi bencana baru.
“Apabila terjadi epicentrum bencana baru, semua siap di-deploy, hanya dalam hitungan jam, baik orangnya maupun peralatannya,” ujarnya.
Pemulihan Listrik di Aceh Tamiang
Dalam paparannya, Darmawan turut menjelaskan perbedaan karakter pemulihan kelistrikan di sejumlah wilayah Aceh. Di Aceh Tamiang, pemulihan berlangsung relatif cepat karena akses jalan tidak terputus dan peralatan dapat langsung dikirim dari Sumatra Utara.
Meski demikian, jumlah rumah yang rusak di wilayah tersebut mendekati 40 ribu unit, hampir setara dengan Aceh Utara. Sementara itu, di Aceh Tengah, khususnya wilayah Takengon, jumlah rumah rusak tercatat lebih sedikit, sekitar 10 ribu unit.
Namun, terputusnya akses jalan membuat proses pemulihan menjadi lebih kompleks. PLN bahkan harus mengangkut sekitar 1.100 tiang listrik beserta kabel menggunakan pesawat Hercules.
Dari pengalaman tersebut, PLN menilai kecepatan pemulihan pasokan listrik sangat bergantung pada keterbukaan akses menuju lokasi terdampak, sementara tingkat kerusakan rumah tidak selalu sejalan dengan kondisi jaringan kelistrikan.
Darmawan menambahkan, saat ini pemulihan sistem kelistrikan di Aceh sudah hampir rampung. Dari total sekitar 6.500 desa, tersisa sekitar 60 desa atau kurang dari 1 persen yang masih mengalami kendala pasokan listrik akibat akses jalan yang belum terbuka atau wilayah yang masih terisolasi. (*)



