Politik

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Soroti Krisis Sampah di Tiga Gili Lombok, Rusak Citra Wisata Dunia

Jakarta (NTBSatu) – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty menyoroti krisis pengelolaan sampah di tiga destinasi wisata unggulan Lombok Utara, yakni Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. 

Persoalan ini berpotensi merusak citra pariwisata Indonesia pada tingkat global, mengingat ketiga kawasan itu memiliki peran strategis sebagai wajah pariwisata nasional.

Evita mengungkapkan keprihatinan mendalam, setelah melakukan kunjungan langsung ke Lombok dan meninjau kondisi lapangan pada tiga pulau wisata tersebut.

Dalam kunjungan itu, ia menyaksikan secara nyata penumpukan sampah yang tidak tertangani secara optimal serta minimnya sistem pengelolaan yang berkelanjutan.

IKLAN

“Saya baru kembali dari Lombok. Salah satu destinasi prioritas Bu Menteri ke depan. Saya ke Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno,” ungkapnya dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengutip Youtube TVR Parlemen, Kamis, 22 Januari 2026.

Menurut Evita, persoalan sampah menjadi masalah utama yang muncul hampir pada seluruh titik kawasan wisata di tiga gili. Ia bahkan mendatangi langsung lokasi penimbunan sampah, serta berdialog dengan kepala desa setempat untuk menggali akar persoalan yang terjadi.

“Masalah di gili itu adalah sampah. Saya sampai pergi, Bu Menteri, ke tempat penimbunan sampah itu, terus saya bicara sama kepala desa, Bu Menteri,” tegasnya.

Kendala Regulasi Hambat Solusi

Evita menjelaskan, minat investor untuk mengelola sampah di Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun, proses realisasi investasi belum berjalan akibat ketidakpastian regulasi serta perizinan yang belum memberikan kepastian hukum.

“Ada investor yang masuk, mau masuk untuk mengelola sampah di tiga pulau itu. Saya juga enggak ngerti aturan kita Bu Menteri. Terus terang saja, sudah ada investor enggak juga dikasih untuk mengelola,” bebernya.

Kondisi lingkungan pada kawasan wisata menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Sampah tidak hanya mencemari pantai dan kawasan permukiman, tetapi juga menciptakan pemandangan yang merusak nilai jual destinasi wisata kelas dunia.

Ia menggambarkan, keberadaan satwa yang memakan sampah sebagai bukti nyata buruknya pengelolaan lingkungan pada kawasan wisata prioritas.

“Itu benar-benar sapi makan sampah. Sampai rusa pun ada di situ sudah makan sampah. Jadi ini image yang sangat buruk bagi pariwisata kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, Evita mendorong Kementerian Pariwisata untuk turun langsung ke lapangan agar dapat melihat kondisi sebenarnya. Ia juga meminta adanya pemetaan menyeluruh persoalan sampah pada destinasi wisata nasional, serta penguatan koordinasi lintas kementerian.

Menurutnya, tanpa langkah cepat dan terintegrasi, persoalan sampah berpotensi menggerus daya saing pariwisata nasional serta mengancam keberlanjutan kawasan strategis tiga gili Lombok.

“Nah saya ingin dengan pemetaan daripada pariwisata, destinasi pariwisata yang ada, mungkin bisa dicek juga nih penumpukan sampahnya itu seperti apa. Koordinasi seperti apa yang bisa dilakukan dengan kementerian-kementerian yang ada,” tambahnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button