Kota Mataram

Petaka Banjir Rob Ampenan: Jalan Amblas 6 Meter, Belasan Rumah Hanyut

Mataram (NTBSatu) – Bencana banjir rob dengan badai hebat kembali menghantam kawasan pesisir Ampenan, Kota Mataram, pada Rabu malam, 21 Januari 2026.

Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, setelah gelombang laut besar menghantam daratan dan merusak permukiman warga.

Hujan deras dengan angin kencang mulai mengguyur kawasan tersebut sejak sekitar pukul 23.00 Wita. Tak lama berselang, air laut mulai naik dan masuk ke permukiman warga sekitar pukul 23.30 Wita hingga dini hari.

“Awalnya hujan deras dan anginnya kuat sekali. Setengah 12 air mulai masuk ke rumah-rumah. Dari situ terus naik sampai sekitar jam tiga subuh,” ujar warga Kelurahan Bintaro, Zaenal yang rumahnya terdampak parah oleh gelombang banjir rob semalam.

Gelombang laut yang datang bertubi-tubi menyebabkan jalan lingkungan selebar sekitar enam meter amblas dan hilang, terseret arus laut. Menurut warga, sebelumnya daratan yang runtuh diperkirakan memiliki panjang hingga 10 meter.

“Tanahnya amblas begitu saja. Sebelumnya masih ada jalan, sekarang hampir tidak bersisa. Rob dan badai malam itu benar-benar keras,” kata Zaenal dengan nada lirih.

100 Jiwa Terdampak

Berdasarkan data sementara BPBD Kota Mataram, sedikitnya 25 Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi dengan total 100 jiwa terdampak. Selain itu, 18 rumah rusak parah, sebagian di antaranya mengalami kerusakan berat pada dinding dan fondasi akibat terjangan ombak.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Ahmad Muzakki mengatakan, banjir rob kali ini tergolong ekstrem dan berdampak serius terhadap permukiman warga pesisir.

“Gelombang laut sangat kuat ditambah hujan deras dan angin kencang. Ini menyebabkan abrasi mendadak dan merusak rumah warga serta infrastruktur lingkungan,” ujarnya Kamis, 22 Januari 2026.

Di tengah kepanikan malam itu, sejumlah warga mengalami luka-luka. Hj. Yuliana, salah satu warga terdampak mengaku, tiga orang di rumahnya terluka saat berusaha menahan air laut yang masuk dengan deras.

“Air datang tiba-tiba, kami panik. Ada yang jatuh, ada yang terbentur. Tiga orang di rumah kami luka-luka,” tuturnya.

Sementara itu, Sukmawati, warga lainnya, berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi kawasan pesisir dari ancaman serupa.

“Kami mohon dibangunkan tanggul yang kuat atau penahan ombak yang lebih baik. Jangan sampai kejadian seperti ini terus berulang,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

BPBD Kota Mataram mengimbau masyarakat pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di tengah kondisi cuaca yang masih belum bersahabat.

“Kami sangat berharap masyarakat menjauhi dulu area pantai, terutama saat malam hari. Cuaca dan gelombang laut masih tidak stabil, keselamatan adalah yang utama,” tambah Muzakki. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button