Infrastruktur Usang, PDAM Sumbawa Butuh Rp200 Miliar Peremajaan Pipa
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Batulanteh Sumbawa, H. Abdul Hakim mengungkapkan, kondisi infrastruktur yang menua menjadi tantangan serius dalam menjaga stabilitas pelayanan air bersih kepada pelanggan. Usia teknis jaringan pipa yang melampaui batas layak pakai kerap memicu gangguan distribusi air.
Menurut Abdul Hakim, PDAM Sumbawa harus segera melakukan pembenahan menyeluruh, terutama pada jaringan pipa distribusi dan bak pengolahan air yang kondisinya sudah usang.
“Yang harus kami perbaiki sangat banyak, terutama pipa distribusi dan bak pengolahan air yang memang sudah waktunya direhabilitasi,” ujarnya, Rabu, 21 Januari 2026.
Ia mengungkapkan, tahun ini Perumdam Batulanteh memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat melalui APBN sebesar Rp22 miliar. Dana tersebut akan untuk merehabilitasi instalasi pengolahan air serta mengganti pipa distribusi sepanjang enam kilometer.
Namun, Abdul Hakim menegaskan, bantuan tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Pasalnya, total panjang jaringan pipa di Kota Sumbawa dan sekitarnya mencapai sekitar 120 kilometer.
“Untuk peremajaan total jaringan pipa, kami membutuhkan anggaran sekitar Rp200 miliar. Angka ini tidak mungkin dikejar hanya dari tarif pelanggan,” tegasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan perhitungan Break Even Point (BEP), investasi sebesar itu baru akan kembali dalam waktu 30 hingga 40 tahun. Karena itu, pihaknya terus mengkaji regulasi dan skema pembiayaan agar perbaikan tetap berjalan tanpa mengganggu keuangan perusahaan.
Menjawab keluhan masyarakat terkait tekanan air yang sering melemah, Perumdam Batulanteh menyiapkan solusi jangka pendek berupa penggunaan pompa booster untuk meningkatkan tekanan air ke wilayah terjauh.
“Pompa booster bisa membantu, tapi konsekuensinya biaya operasional meningkat karena konsumsi listrik yang besar,” katanya.
Abdul Hakim berharap, masyarakat dapat memahami kondisi tersebut karena keterbatasan layanan saat ini merupakan dampak akumulatif dari usia infrastruktur yang sudah sangat tua.
“Kami tetap berusaha maksimal untuk memenuhi harapan pelanggan. Dengan adanya rehabilitasi ini, jaminan kualitas pelayanan kedepan tentu akan lebih baik,” katanya. (*)



